Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Intensifkan Operasi Pasar Murah di Desa, Cara Disdag NTB Tekan Inflasi

Galih Mega Putra S • Sabtu, 3 Februari 2024 | 15:15 WIB
PASAR MURAH: Kegiatan pasar murah yang ada di Desa Suranadi, Lombok Barat, beberapa waktu lalu. (FERIAL/LOMBOK POST)
PASAR MURAH: Kegiatan pasar murah yang ada di Desa Suranadi, Lombok Barat, beberapa waktu lalu. (FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost-Berbagai upaya untuk menekan inflasi terus dilakukan. Salah satunya yang terus diintensifkan adalah operasi pasar murah di desa-desa.

Tujuannya agar masyarakat bisa mendapatkan bahan pokok (Bapok) dengan harga yang lebih terjangkau.

”Kami rutin melaksanakan pasar murah di desa-desa pada saat kegiatan Jumat Salam,” ujar Kepala Disdag NTB Baiq Nelly Yuniarti.

Dijelaskannya, pada Januari 2023 inflasi NTB diawali 5,83 persen, dan ditutup sebesar 3,02 persen di Desember. Penurunan yang signifikan ini menandakan NTB mampu menjaga tingkat inflasinya.

”Kalau kita sudah bisa menjaga itu (inflasi, Red), berarti kita sudah bisa menjaga kestabilan harga,” ujarnya.

Menurut Nelly, inflasi pada Desember dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan. Di antaranya komoditas tomat, cabai merah besar, dan bawang merah.

Alhamdulillah untuk Pemprov NTB dengan penurunan inflasi yang cukup signifikan selama setahun ini, kami bisa menyatakan stabilitas harga bisa terjamin,” sambungnya.

Lebih lanjut dia juga menyebut Pemprov NTB sendiri telah mempunyai Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Tim ini merupakan gabungan beberapa OPD, seperti Dinas Perdagangan, Dinas Ketahanan Pangan, Biro Perekonomian, Dinas Pertanian, Bank Indonesia serta beberapa stakeholder lainnya.

”Seluruh stakeholder ini yang mengampu faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi,” katanya.

Berbicara soal komoditas beras, hal itu diakui Nelly sangat dipengaruhi oleh kondisi alam.

Baca Juga: Bappenda NTB Tampung Saran Desa Wanasaba Daya Butuh Sistem Perpipaan Air Minum

Sebab itu, dilakukan dropping beras dari Pulau Jawa, dan itu sudah ditangani Bulog NTB untuk kebutuhan hingga Februari ini.

”Saat ini SPHP kita menggunakan beras Bulog di HET Rp 10.500 per kilogram,” bebernya.

Untuk komoditas lainnya, Bank Indonesia NTB memiliki klaster sejumlah komoditas untuk mengintervensi saat terjadi kenaikan harga.

Seperti klaster cabai, klaster bawang merah, hingga telur ayam.

Disdag NTB juga rutin melaksanakan kegiatan operasi pasar murah di desa-desa.

Selain mengintervensi kenaikan harga, operasi pasar murah ini juga bertujuan untuk menyediaakan masyarakat bapok dengan harga yang terjangkau.

Sebelumnya, KpwBI NTB Berry Arifsyah Harahap mengatakan, inflasi di 2024 diperkirakan melandai dan berada pada kisaran 2,5 plus minus 1 persen.

Melandainya tekanan inflasi seiring dengan perkiraan melandainya tekanan pada kelompok VF dan AP.

Kelompok AP ini berupa berlanjutnya normalisasi tarif angkatan udara. 

Berdasarkan perkiraan International Bureau of Aviation (IBA), kapasitas AU akan meningkat dan tarifnya akan turun di mayoritas wilayah pada 2024, termasuk kawasan Asia Pasifik.

”Selain itu tarif cukai rokok rata-rata 10 persen pada 2024 sesuai PMK Nomor 191 tahun 2022,” ujarnya.

Kelompok VF yakni berupa penambahan alokasi anggaran subsidi pupuk di 2024 sebesar Rp 14 triliun.

Selain itu, berlanjutnya impor beras sebesar 3 juta ton, dengan 2 juta ton dari Thailand dan 1 juta ton dari India.

”Kondisi cuaca yang relatif stabil pasca El Nino di 2023, dan peningkatan demand bahan makanan sejalan lebih banyaknya periode cuti bersama 2024,” pungkasnya. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#Pasar Murah #Inflasi #bapok