LombokPost-Menghasilkan sebuah karya seni indah tidak melulu harus berbahan baku mewah.
Dengan kreativitas yang mumpuni, barang bekas pun bisa diolah menjadi barang bernilai tinggi.
Seperti yang dilakukan Muhammad Tayip Ibrahim, warga Desa Lantan, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah.
Dirinya berkreasi membuat produk lampu hias hingga tas cantik dari pipa paralon bekas.
Dituturkannya, ide usaha ini tercetus dari banyaknya sampah paralon bekas di lingkungan tempat tinggalnya.
Kemudian dia berinisiatif menjadikan paralon bekas ini menjadi produk kerajinan yang unik dan menarik.
”Ini baru berjalan satu tahun. Karena melihat sampah paralon bekas, kemudian kami berpikir apa kira-kira yang bisa dimanfaatkan dari paralon bekas ini,” bebernya.
Setelah berselancar di media sosial, dirinya akhirnya menemukan caranya.
Berbekal dari itu, bersama warga sekitar dirinya mulai belajar berkreasi menciptakan produk unik. Seperti lampu hias atau lampion, tas, tempat tisu, dan pernak-pernik lainnya.
”Beraneka motif itu kami kreasikan sendiri,” sambungnya.
Kata Tayip, bagian paling sulit adalah ukirannya. Seperti mengukir pola kaligrafi maupun pola lainnya.
Contohnya produk lampu hias menggunakan pola pohon, daun, dan lainnya.
”Satu biji itu, kalau kita fokus bisa jadi satu hari. Produk yang paling mudah adalah tempat tisu,” bebernya.
Sedangkan untuk pola lampion, pihaknya menggunakan pola yang dibuat dan dicetak dari komputer.
Pola itu diukir lagi menggunakan pensil dan diberikan lampu.
”Setelah terbentuk baru kita ukir pakai mesin ukir. Ini yang agak sulit karena tidak boleh putus ukirannya,” jelas Tayip.
”Awal bikin pernah kita gagal karena putus ukirannya, kita ulang lagi hingga akhirnya berhasil,” ceritanya.
Dari keseluruhan produk yang dihasilkan, lampu hias atau lampion paling dimintai.
Bahkan sempat ada pesanan hingga 40 pcs dan bahan baku pipa bekasnya tidak mencukupi. Akhirnya, mereka terpaksa membeli pipa baru lantaran butuh banyak.
”Kita ajak anak muda ikut untuk motongnya, ukirnya juga kita ajari,” ujarnya.
Ketika ada event, produk yang paling banyak dicari adalah tempat tisu dan tempat air gelas.
Lampu hias pun bisa laku terjual hingga 20 pcs lebih. Tak hanya orang luar desa, bahkan warga Desa Lantan pun banyak yang tertarik membeli produknya.
”Lampu hias ini menarik, bisa ditaruh di pintu,” katanya.
”Omzetnya fluktuatif, tergantung pesanan. Kalau lagi ramai bisa sampai jutaan rupiah,” tambahnya.
Berbicara soal harga, mulai dari kisaran Rp 25 ribu hingga Rp 300 ribu.
Harga ini tergantung tingkat kerumitan pengerjaannya. Untuk lampu hias, harganya mulai dari Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu.
”Kami masih memasarkan melalui media sosial,” ucapnya.
Ditambahkannya, memanfaatkan barang bekas menjadi produk bernilai ekonomis menjadi alternatif menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Hal ini tentu berimbas pada peningkatan perekonomian. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida