Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Camilan Labu Jonggat Berhasil Tembus Pasar Arab Saudi

Galih Mega Putra S • Rabu, 21 Februari 2024 | 20:40 WIB
PROSES PENGEMASAN: Nurhayati tengah mengemas stik labu yang akan dipasarkan, beberapa waktu lalu.
PROSES PENGEMASAN: Nurhayati tengah mengemas stik labu yang akan dipasarkan, beberapa waktu lalu.

LombokPost-Salah satu bisnis rumahan di NTB yang terus menggeliat dilakoni kelompok usaha wanita Harapan Baru di Dusun Gontoran, Desa Batu Tulis Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah.

Usaha yang satu ini bahkan sudah melanglang buana hingga ke luar negeri.

Kelompok usaha wanita ini mengolah labu menjadi cemilan enak yang bernilai ekonomi lebih tinggi.

Semua berawal dari coba-coba saja, lantaran melihat bahan baku yang melimpah di sekitar tempat tinggal mereka.

”Kedelai sama labu ini kan banyak di tetangga-tetangga, itu yang ada di kampung kita, tidak perlu cari di luar,” ujar Ketua Kelompok Usaha Wanita Harapan Baru Nurhayati.

Melimpahnya bahan baku ini kemudian dikreasikan para ibu rumah tangga ini menjadi stik labu.

Pada 2021 lalu, mereka melakukan percobaan hingga mendapatkan pelatihan pemasaran dan pengemasan.

Cemilan ini ternyata mendapat respons baik dari pasar dan cukup diminati.

Hal ini terlihat dari jangkauan penjualannya yang terus meluas.

Tidak hanya di seputaran Jonggat, penjualan cemilan ini bahkan sudah sampai ke luar daerah, juga luar negeri.

Seperti Jakarta, Bali, hingga Arab Saudi. Bahkan produk ini sudah masuk dalam sejumlah ritel modern dan supermarket di Kota Mataram.

”Sudah masuk ke MGM, Niaga, Ruby, dan NTB Mall,” sambungnya.

Soal harga, satu kilogram stik labu ini dijual Rp 40 ribu.

Namun ada juga yang dijual dalam kemasan 180 gram seharga Rp 11 ribu.

Selain stik labu, juga ada stik kedelai dengan harga yang sama.

Lebih lanjut dijelaskan Nurhayati, kelompok ini awalnya memberdayakan 16 orang IRT.

Namun seiring perjalanan usaha, bertambah menjadi 22 orang IRT.

Tiap IRT ini memiliki perannya masing-masing dalam kelompok usaha tersebut.

Mengenai omzet, Nurhayati mengaku belum begitu besar lantaran terbilang masih baru.

Sekali masuk, pemasukannya di kisaran Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Dalam sebulan, bisa masuk tiga hingga empat kali pemasukan.

”Tidak tentu, karena ada yang masuk di ritel tadi,” katanya.

Selain melayani produksi untuk ritel modern dan pesanan luar, mereka juga menerima pemesanan stik labu ini untuk hajatan.

Usaha ini, kata Nurhayati, merupakan upaya para IRT di Dusun Gontoran untuk meningkatkan ekonomi keluarga. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#UMKM #ukm #NTB