Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Potensi Menggiurkan, Madu Trigona Hasilkan Cuan Jutaan Rupiah

Galih Mega Putra S • Rabu, 13 Maret 2024 | 14:30 WIB
BISNIS MENGGIURKAN: Imamul Azkar menunjukkan dua botol produk madu trigona miliknya dengan merek Madu Tuan Muda.  (FERIAL/LOMBOK POST)
BISNIS MENGGIURKAN: Imamul Azkar menunjukkan dua botol produk madu trigona miliknya dengan merek Madu Tuan Muda. (FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost-Memiliki potensi ekonomi yang menggiurkan, membuat budi daya madu trigona semakin banyak diminati masyarakat.

Salah satunya seperti yang dilakukan Imamul Azkar, warga Desa Bengkaung, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat.

Imam melakoni usaha budi daya madu trigona di pekarangan rumah dan kebunnya.

Kegiatan ini sudah berlangsung selama 10 tahun.

Awalnya, Imam tertarik membudidayakan madu trigona lantaran potensi yang ada di desanya.

Desa Bengkaung yang memiliki hamparan pegunungan yang luas dinilai bagus untuk budi daya madu trigona.

Akhirnya dia pun memutuskan untuk belajar cara budi dayanya pada salah seorang warga di Kecamatan Lingsar.

”Kami mulai 2013 lalu, potensinya cukup berlimpah di desa Bengkaung ini, tapi kami baru tahu saat itu,” ujarnya.

Setelah mendapat pemahaman cara budi daya madu trigona, Imam dan beberapa warga sekitar mulai membentuk kelompok kecil.

Di awal perjalanan usahanya itu tidak selalu berjalan mulus. Kelompoknya kerap dicemooh, bahkan dianggap tidak waras.

”Tidak mudah untuk memperkenalkan budi daya lebah madu trigona, bahkan saya tidak didukung oleh istri ,” kenangnya.

Meski begitu, tidak menyurutkan semangat kelompoknya untuk terus berkembang.

Perlahan namun pasti, penghasilan dari madu trigona ini mampu mendatangkan penghasilan yang cukup menggiurkan.

Akhirnya, semakin banyak warga Desa Bengkaung yang tertarik melakukan kegiatan serupa.

”Sekarang istri saya bahkan lebih antusias  untuk budi daya trigona ini,” katanya.

Kata dia, saat ini jenis lebah madu yang dikembangkan di pekarangan rumahnya lebih beragam.

Di antaranya, lebah madu laeviceps, itama, scaptop dan apicalis serta thoracica asal Kalimantan. Jenis-jenis lebah madu ini juga digunakan Imam sebagai sarana edukasi kepada warga yang ingin belajar.

”Target kami saat ini, baik dari masing-masing jenis trigona tadi, kami akan pertahankan endemik kami yang ada di Lombok umumnya, lebih khususnya di desa Bengkaung ini,” jelasnya.

Hingga saat ini, Imam sukses membudidayakan sebanyak 200 stup madu trigona di pekarangan rumahnya.

Proses untuk berkembang seperti saat ini diakuinya gampang-gampang susah.

Salah satu tantangan terbesarnya adalah cuaca yang berdampak langsung pada kesehatan lebah trigona.

”Kami selalu berkomunikasi bahkan melalui komunitas yang ada di Lombok, dan musim saat ini rata-rata teman pembudi daya ini mengalami hal yang sama seperti apa yang kami alami,” bebernya.

”Banyak koloni kami juga sakit dan ini kami sedang pelajari dari mana sumber sakitnya itu,” imbuhnya.

Di kawasan pegunungan ada banyak tanaman yang dijadikan makanan utama lebah.

Beberapa di antaranya seperti kelapa dan bunga jantan aren.

Hal ini juga yang membuat madu trigona yang dihasilkan memiliki kualitas yang bagus dan kuantitasnya cukup banyak.

Lebih lanjut, Imam mengatakan panen madu trigona bisa dilakukan setiap hari, satu bulan sekali hingga setahun sekali.

Namun untuk menghasilkan kualitas yang bagus, dirinya melakukan panen setiap hari, dengan rata-rata setiap hari mendapatkan madu sebanyak 250 mililiter per kotaknya.

”Kalau kami panen itu sekitar 20 kotak sehari, kami tidak mau melihat madu lebah ini berkelahi antar koloni yang lain, Kalau sehari paling 20 kotak paling banter 30 kotak, itu bisa menghasilkan tujuh liter madu per hari,” terangnya.

Madu trigona ukuran 500 mililiter dijual Rp 250 ribu. Sedangkan ukuran 200 mililiter Rp 125 ribu, dan 100 mililiter Rp 60 ribu.

Dalam sebulan, Imam bisa menjual sekitar 35 botol berbagai ukuran.

Pendapatan yang diraup dari penjualan itu sekitar Rp 8 juta.

”Untuk pemasaran tidak masalah bagi kami, karena kami sudah punya pelanggan.

Terlebih kami sudah join beberapa pusat oleh-oleh yang berada di kawasan Kecamatan Batulayar, dan setiap minggu kami suplai barang ke sana,” tuturnya.

Karena memiliki segudang manfaat, madu trigona yang Imam produksi ini banyak dikirim ke luar daerah.

Di antaranya seperti Makassar hingga Sukabumi.

Bahkan Kementerian Agama juga menjadi langganan Imam. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#UMKM #madu #trigona