Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pengusaha Minta Persoalan Beda Tarif Cidomo di Tramena Dibenahi

Galih Mega Putra S • Kamis, 14 Maret 2024 | 17:10 WIB
PERLU DIBENAHI: Salah satu cidomo yang beroperasi di Gili Tramena, beberapa waktu lalu. (FERIAL/LOMBOK POST)
PERLU DIBENAHI: Salah satu cidomo yang beroperasi di Gili Tramena, beberapa waktu lalu. (FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost-Pengusaha di Gili Trawangan, Meno, dan Air (Tramena) berharap pemerintah daerah memperhatikan persoalan tarif transportasi cidomo di tiga pulau tersebut.

Persoalan ini kerap menjadi keluhan, lantaran adanya perbedaan harga antara tamu dan warga.

”Ini juga menjadi PR,” ujar Ketua DPD Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) NTB Lalu Kusnawan.

Menurutnya, edukasi mengenai persoalan tarif cidomo ini perlu dilakukan.

Sebab jika tidak, polemik tarif cidomo berpotensi menjadi persoalan pelik.

Namun kata Kusnawan, saat ini pihak pengurus Janur Kuning menjanjikan akan ada inovasi yang diberikan.

Sehingga ada ketetapan tarif yang jelas.

”Jadi tidak ada lagi perdebatan soal perbedaan harga ini,” sambungnya.

Persoalan tarif ini sebenarnya sudah ditentukan sebelumnya.

Tarif dari satu titik ke titik lainnya sudah jelas.

Termasuk jumlah penumpang dan koper yang diangkut.

Hanya saja,kata Kusnawan ada beberapa kusir nakal yang diduga suka menaikkan tarifnya.

”Ada dua poin di sini, satu memang sudah terbiasa kita di Indonesia ini tawar menawar. Kedua, mereka dalam tanda kutip mungkin sengaja, makanya ini harus jadi catatan,” jelas pria yang juga ketua Gili Hotels Association (GHA) itu.

Dirinya berharap Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) mengatensi persoalan ini.

Apalagi aturan mengenai transportasi cidomo ini dibuat oleh pemda sendiri.

Sehingga jika terjadi penyimpangan, pemda harus mengawal persoalan tersebut hingga tuntas.

”Satu poin yang saya ingin garis bawahi, kami inginkan adanya kehadiran pemda di gili seperti pol PP, dishub, pariwisata, dan lainnya,” terangnya.

Kehadiran pemda ini bertujuan agar setiap persoalan di Gili Tramena bisa direspons dan diselesaikan lebih cepat.

Pihaknya tidak ingin ketika ada kejadian setelah viral baru mendapatkan penanganan.

”Jangan sampai seperti itu dong,” katanya.

Membangun citra pariwisata, kata Kusnawan tidaklah mudah.

Pihaknya tentu tidak ingin terbangun mindset Gili Tramena sering ribut.

Sebab hal tersebut memiliki pengaruh pada kunjungan wisatawan nantinya.

”Jadi jangan sampai hal-hal kecil jadi besar,” ujarnya.

Ditambahkannya, perlu juga menginformasikan pada dunia perihal transportasi cidomo ini.

Penggunaan cidomo sebagai transportasi bukan animal harassment atau penyiksaan hewan.

”Karena ini masih pro kontra, masih ada masyarakat atau tamu luar negeri yang tidak mau naik cidomo karena dianggap penyiksaan hewan,” tandasnya. (fer/r9)

 

Editor : Kimda Farida
#Gili #Cidomo #Hotel