LombokPost-Bank Indonesia mencatat pada awal 2024 pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 5,80 persen secara year on year (yoy).
Sedangkan Penyaluran Pertumbuhan Kredit mencapai 11,83 persen secara year on year (yoy).
Di sisi lain, loan to deposit rate (LDR) berada pada angka 83,87 persen.
”Yang mengkhawatirkan LDR atau rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) yang tinggi menunjukkan suatu bank telah memberikan pinjaman dalam jumlah yang besar jika dibandingkan dengan simpanan yang dimilikinya,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Berry Arifsyah Harahap.
Menurutnya, secara nasional pertumbuhan DPK masih agak rendah 5 persen, sedangkan kredit 11 persen.
Kondisi ini menandakan, simpanan bank dari DPK masih kecil namun bank memberikan kredit yang lebih besar.
”Jangka panjang ini berbahaya, berarti membutuhkan pinjaman luar negeri untuk membiayai kredit kedepannya. Ini harus menjadi perhatian,” terangnya.
Dia juga mengindikasikan adanya pelemahan dari berbagai aspek, seperti melemahnya penghasilan masyarakat dan beberapa faktor lainnya.
”Indikasi lainnya himpunan dana masyarakat DPK banyak untuk surat berharga, saham, maupun obligasi, dan sejenisnya,” ujarnya.
Respons kebijakan Bank Indonesia terkait ini dengan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 Februari 2024 memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 6,00 persen.
”Suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen,” jelasnya.
Keputusan tersebut tetap konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang pro-stability, yaitu penguatan stabilisasi nilai tukar Rupiah serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada 2024.
Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap pro-growth untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Kebijakan makroprudensial longgar terus ditempuh untuk mendorong kredit/pembiayaan perbankan kepada dunia usaha dan rumah tangga.
”Akselerasi digitalisasi sistem pembayaran, termasuk digitalisasi transaksi keuangan pemerintah pusat dan daerah juga terus didorong untuk meningkatkan volume transaksi dan memperluas inklusi ekonomi-keuangan digital,” tambahnya.
Secara nasional, perekonomian Indonesia tetap berdaya tahan terhadap dampak rambatan global.
Pada triwulan IV 2023, ekonomi domestik tumbuh meningkat sebesar 5,04 persen (yoy), didukung oleh hampir seluruh komponen PDB.
Secara spasial, pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2023 di sebagian besar wilayah Indonesia lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.
Secara keseluruhan tahun PDB 2023 tumbuh kuat 5,05 persen (yoy).
Pertumbuhan ekonomi yang baik diprakirakan berlanjut pada 2024 dalam kisaran 4,7-5,5 persen.
Prospek ini dipengaruhi oleh membaiknya ekspor dan tetap baiknya permintaan domestik yang didukung oleh positifnya keyakinan pelaku ekonomi.
”Adapun inflasi Februari 2024 sebesar 0,37 persen (mtm) atau 2,75 persen (yoy), tetap terjaga dan berada pada kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen,” kata dia. (nur)
Editor : Kimda Farida