LombokPost-Komoditas tomat menjadi bahan pangan penyumbang inflasi paling tinggi selama April 2024 berdasarkan data BPS NTB.
Meski begitu, inflasi NTB pada April justru mengalami penurunan yang dalam dari bulan sebelumnya.
Kepala BPS NTB Wahyudin menjabarkan, inflasi NTB secara bulanan (m to m) 0,06 persen. Jumlah ini menurun dibandingkan bulan sebelumnya 0,87 persen.
Sementara secara kalender tahunan (yoy), inflasi NTB pada April 2024 3,31 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 106,80. Persentase ini turun sedikit dibandingkan bulan lalu sebesar 3,63 persen.
”Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menyumbang inflasi tertinggi secara year on year (yoy),” ujarnya, Kamis (2/5).
Pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi tertinggi sebesar 6,9 persen.
Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 3,17 persen.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,30 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 1,72 persen, kelompok pakaian dan alas kaki 1,49 persen.
Kemudian kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 1,37 persen, kelompok pendidikan 1,18 persen, dan kelompok transportasi 0,87 persen. Berikutnya kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,52 persen dan kelompok kesehatan 0,42 persen.
”Beberapa komoditas di kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga ada yang menyumbang deflasi,” sambungnya.
Jika dilihat dari sisi laju inflasi NTB (m to m) di tiga daerah sampel (Kota Bima, Kabupaten Sumbawa, dan Kota Mataram), inflasi tertinggi terjadi di Kota Bima 0,28 persen.
Sedangkan di Kota Mataram 0,15 persen.
”Untuk Kabupaten Sumbawa justru deflasi sebesar 0,15 persen,” bebernya.
Sedangkan secara year on year (yoy), inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sumbawa sebesar 3,46 persen. Kemudian Kota Mataram 3,27 persen dan kota Bima 3,05 persen.
Sehingga secara keseluruhan inflasi secara kalender tahunan NTB 3,31 persen.
Terkait komoditas penyumbang inflasi bulanan, secara gabungan disumbang paling tinggi oleh tomat. Setelah itu disusul komoditas bawang merah, emas perhiasan, cumi-cumi, dan daging ayam ras.
Sedangkan komoditas beras, cabai merah, dan cabai rawit, justru menyumbang deflasi.
”Tomat ini memang pada April itu mengalami kenaikan harga, bahkan saya sempat sampai Rp 50-60 ribu per kilogram saya dengar dari ibu-ibu rumah tangga. Padahal biasanya Rp 15-20 ribu paling tinggi,” terangnya.
”Bawang merah juga, kenapa bisa naik, karena April baru tanam, sehingga harganya cukup tinggi,” tandasnya.
Sebelumnya, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB memproyeksi inflasi NTB akan menurun atau lebih rendah dari sebelumnya.
Hal ini lantaran sejumlah bahan makanan yang menyumbang inflasi mulai mengalami penurun harga.
Dijelaskan Kepala KPwBI NTB Berry Arifsyah Harahap, pada Maret 2024 NTB mengalami inflasi sebesar 0,87 persen (m to m).
Jumlah ini meningkat dari bulan sebelumnya seiring dengan kenaikan tekanan dari kelompok Volatile Food (VF).
”Hal tersebut menyebabkan inflasi Provinsi NTB secara tahunan tercatat sebesar 3,63 persen (y o y) dan secara tahun kalender sebesar 0,99 persen (y to m),” jelasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida