LombokPost-Kerajinan yang dihasilkan Najamuddin ini sangat unik.
Bermodalkan gedebong alias batang pisang, dirinya menghasilkan topi dan peci yang bernilai ekonomi cukup tinggi.
Ide kreatifnya itu muncul pada saaat Pandemi Covid-19 di 2020 lalu.
Saat itu, kondisi perekonomiannya benar-benar menyedihkan.
Dirinya memutar otak bagaimana bisa menghasilkan uang. Sehingga kebutuhan dapur rumah tangganya bisa terisi di tengah penurunan perekonomian saat itu.
Akhirnya muncullah ide membuat kerajinan dari gedebong pisang.
Kerajinan ini sangat jarang ada yang menekuni, dan Najamuddin mencoba peruntungannya.
Bahan baku yang digunakan pria 58 tahun ini berasal dari limbah.
Batang pisang yang didapatkannya itu merupakan sisa-sisa hajatan warga.
Biasanya, dalam sebuah hajatan di Lombok selalu menyajikan sayur ares. Sayur yang berbahan utama batang pisang ini menyisakan banyak limbah pelepah.
Jumlahnya bahkan bisa mencapai dua hingga tiga mobil pikap dalam sekali hajatan.
Pria asal Lombok Utara ini melihat limbah itu sebagai peluang emas.
Dirinya pun menyiasati limbah tersebut menjadi sebuah produk bernilai ekonomi.
Untuk menghasilkan kerajinan gedebong pisang ini, dirinya berkali-kali melakukan trial and error.
Untuk percobaan dan uji kualitas bahan, pria yang disapa Ajam Ambok ini membutuhkan waktu berbulan-bulan.
”Butuh waktu berbulan-bulan sampai nemu bahan yang tepat,” ujarnya.
Ajam Ambok akhirnya berhasil menciptakan produk topi dan peci dari gedebong pisang. Menariknya, setiap karyanya memiliki motif khas yang menunjukkan kearifan lokal Lombok Utara.
Motif itu dinamainya 2M yang merupakan singkatan dari Mempolong Merenten.
Sebuah semboyan Lombok Utara yang berarti bersaudara.
Selain itu, ada juga motif lainnya berupa logo Lombok Utara, hingga tulisan Bahasa Sasak Dayan Gunung.
Untuk produksi topi gedebong 2M ini, masih terbatas lantaran dilakukan manual.
Selain itu, proses penyiapan bahan pun membutuhkan waktu cukup lama. Proses penjemuran pelepah pisang saja membutuhkan waktu hingga 15 hari.
”Paling satu sampai dua topi per hari, karena dikerjakan sendiri dan proses bahannya juga cukup lama,” bebernya.
Topi dan peci buatan Ajam Ambok ini dibanderol dengan beragam varian harga.
Mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu, tergantung kerumitan motif dan ukuran yang dibuat.
Selama ini, dirinya lebih banyak memproduksi topi dan peci tersebut sesuai pesanan. Hal itu lantaran kerumitan proses pembuatannya. Di samping itu, pasar untuk produknya juga masih belum jelas.
Sehingga dia belum berani memproduksi dalam jumlah banyak.
Meski begitu, produk buatan Ajam Ambok ini mendapatkan respons positif dari masyarakat.
Peminatnya terbilang cukup banyak, bahkan ada yang memesan dari luar NTB.
Seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Pulau Jawa.
”Pesanan dari luar ada, tapi tidak konsisten. Kadang ada, kadang juga tidak ada. Sampai saat ini pasar untuk produk saya belum begitu luas. Semoga ke depannya bisa lebih berkembang lagi pasarnya,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida