LombokPost-Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB menggelar diseminasi Laporan perekonomian Provinsi (LPP) NTB tahun 2024, di Aula Serba Guna BI NTB, Rabu (3/7).
Kegiatan ini menggali potensi sumber baru untuk pertumbuhan ekonomi NTB. Di antaranya, mengoptimalkan sektor pertanian berkelanjutan dan pariwisata.
Kegiatan ini menghadirkan Ekonom Nasional dari IPB Doktor Sahara dan Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN Yudhistira Nugraha. Kemudian Ekonom Unram Prayitno Basuki, dan Kepala Bappeda NTB H Iswandi.
Berdasarkan pemaparan KPwBI NTB, pertumbuhan perekonomian NTB hingga saat ini tercatat masih paling besar disumbang sektor tambang yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).
Sementara sektor non tambang, pertumbuhannya tercatat melambat meski masih tumbuh positif.
”Perekonomian NTB Triwulan I tumbuh 4,75 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Di sisi lain, sektor non tambang tumbuh positif sebesar 2,95 persen (yoy)” papar Deputi Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTB Winda Putri Listya, Rabu (3/7).
Dijelaskannya, pertumbuhan 4,75 persen ini didorong oleh akselerasi sektor pertambangan yang menjadi determinan utama.
Tingginya dominasi sektor pertambangan menyebabkan pertumbuhan ekonomi NTB cenderung tidak inklusif.
Berdasarkan data BPS, Provinsi NTB menempati urutan ketiga provinsi dengan PDRB per kapita paling rendah setelah NTT dan Maluku pada tahun 2022 (kategori provinsi lower-middle income).
”Ternyata ada simpul simpul dalam struktur perekonomian NTB. Contohnya pertumbuhan ekonomi kita meningkat dibandingkan provinsi lainya, mungkin angkanya cukup bisa bersaing. Tetapi kenapa pendapatan perkapita kita terendah, tentunya ini menjadi pertanyaan,” tuturnya.
”Jadi ini kami coba dalami, kami juga sedang berencana membentuk tim yang khusus menyelesaikan persoalan ini,” imbuhnya.
Melihat perkembangan ekonomi NTB saat ini, ketergantungan terhadap tambang masih tinggi. Berkaca dari hilirisasi nikel di Sulawesi Selatan, hal itu menambah pertumbuhan ekonomi, namun tidak menambah indikator kesejahteraan masyarakat.
”Multiplier efeknya ada tapi minim,” ucapnya.
Tingginya peran tambang tentu saja membuat pertumbuhan perekonomian daerah terbantu. Hanya saja secara inklusi tidak terlalu berdampak. Hal ini berdasarkan hasil komparasi yang dilakukan salah satu ekonom Universitas Mataram Prayitno Basuki terhadap hilirisasi Nikel.
”Smelter itu sebentar lagi beroperasi, tetapi impact-nya ke kita tidak terlalu besar,” katanya.
Selain tambang, potensi sumber pertumbuhan ekonomi lain yang harus dioptimalkan di NTB adalah pertanian dan pariwisata. Pihaknya melihat sektor pertanian ini bisa menyerap tenaga kerja yang low skill. Sedangkan pariwisata, memiliki keunggulan dari hulu ke hilir.
”Pertama daya ungkitnya cepat, terus dari hulu ke hilir ke tarik semua, jadi bayangkan saja jasa bersih bersih, tukang laundry-nya, cathering-nya jadi semua,” terangnya.
Dua sektor ini akan menjadi unggulan sebagai sumber perekonomian lain NTB. Selain itu juga menjadi fokus utama dalam menyusun assessment. Pihaknya akan menyampaikan rekomendasi yang lebih spesifik agar pemerintah daerah membantu mana yang jadi prioritas hingga lima tahun ke depan.
”Kalau pertanian kita masih ngomongin produksi pangan kita, kalau ekspor untuk komoditas unggulan lainya. Seperti manggis, vanili, kemiri juga dalam waktu dekat kita ekspor,” bebernya.
Sektor pertanian merupakan sektor utama di NTB, tercermin dari pangsanya pada struktur ekonomi NTB yang mencapai 21,13 persen. Selain pangsanya, sektor pertanian juga memiliki jumlah lapangan pekerjaan yang dominan dibandingkan sektor lainnya.
Adapun sektor pertanian didominasi oleh subsektor tanaman pangan (43,47 persen) dan perikanan (21,03 persen) pada tahun 2023.
Sebagai salah satu daerah lumbung pangan nasional, tentunya berbagai program optimalisasi produksi telah dilakukan.
Mulai dari percepatan tanam padi dan jagung untuk mendukung ketahanan stok nasional.
Kemudian adanya penambahan alokasi pupuk subsidi, optimalisasi lahan rawa, serta upaya-upaya lainnya untuk meningkatkan produktivitas.
Namun demikian, upaya perluasan produksi juga telah berdampak pada adanya deforestasi.
”Hal ini perlu menjadi salah satu concern bersama demi mewujudkan pertanian dan pembangunan berkelanjutan,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida