Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Omzet Penjual Tuak Manis di Pusuk Lestari Tembus 12 Juta Per Bulan

Galih Mega Putra S • Rabu, 10 Juli 2024 | 13:40 WIB
CUAN BESAR: Nurul Hikmah tengah memasukkan air tuak manis dalam botol ukuran 1,5 liter yang menjadi pesanan pembeli, belum lama ini.(FERIAL/LOMBOK POST)
CUAN BESAR: Nurul Hikmah tengah memasukkan air tuak manis dalam botol ukuran 1,5 liter yang menjadi pesanan pembeli, belum lama ini.(FERIAL/LOMBOK POST)

LombokPost-Minuman tuak manis cukup banyak ditemukan dijual di pinggir jalan Desa Pusuk Lestari, Lombok Barat.

Selain gula aren, tuak manis menjadi salah satu usaha masyarakat yang menjanjikan di kawasan tersebut.

Banyak warga di desa ini berprofesi sebagai petani. Mereka juga bekerja sebagai pengambil air nira atau tuak manis.

Sehingga tak heran jika hampir di sepanjang jalan bisa menemukan penjual tuak manis dengan mudah.

”Ini mata pencarian utama kami di sini,” ujar salah satu penjual tuak manis di Pusuk Lestari, Nurul Hikmah.

Dikatakannya, usaha minuman tuak manis ini sangat menjanjikan.

Dirinya bahkan tidak tertarik untuk menjual yang lainnya.

Peminat minuman ini dikatakan Nurul hampir tidak pernah sepi dan selalu dicari. Sebab itu, jualannya selalu habis setiap harinya.

”Kalau tidak ada tuak manis, saya tidak mau jualan, ini jualan utama saya,” sambungnya.

Dalam sehari, dirinya berjualan tuak manis sebanyak 40 botol dengan ukuran 1,5 liter.

Di pagi hari 20 botol, dan sore hari 20 botol. Tiap botol tuak manis dijual seharga Rp 10 ribu.

Artinya, dirinya mengumpulkan penjualan sebanyak Rp 400 ribu per harinya.

”Sebulan tinggal dikalikan saja, sekitar kurang lebih Rp 11 juta sampai Rp 12 juta,” bebernya.

Menurut Nurul, pendapatan dari berjualan tuak manis bahkan bisa mengalahkan gaji orang kantoran.

Bahkan ketika memasuki bulan Ramadan, pendapatannya semakin meningkat. Sebab pada momen tersebut, peminatnya juga ikut bertambah.

”Ramai sekali, bisa jual 50-60 botol per harinya, selama sebulan itu mencapai Rp 15 juta sampai 16 juta,” klaimnya.

Tidak hanya tuak manis, buah nira pun diolah menjadi kolang kaling dan menjadi tambahan pendapatan lainnya.

Di momen Ramadan, permintaan kolang kaling juga meningkat. Panganan ini dijual sebesar Rp 250 ribu per ember.

”Prospeknya bagus sekali,” tandasnya.

Penjual tuak manis lainnya, Muzakir mengatakan, proses pengolahan minuman tuak manis ini cukup lama. Sebelum menjadi tuak manis, dirinya harus menampung air dari pohon nira atau aren. Air tersebut ditampung menggunakan jerigen.

”Proses pengambilan airnya pun harus ada ciri khusus, kita harus potong tandan pohon aren yang sudah berbau, baru bisa di potong ambil airnya,” jelasnya.

Untuk hasil air nira yang tertampung, kata dia jumlahnya tidak menentu.

Jika airnya sedikit, dirinya menampung dengan jerigen ukuran lima liter per pohon. Sedangkan jika airnya banyak, dirinya bisa menampung dengan jerigen ukuran 20-30 liter.

”Dalam sehari dua kali kita ambil, di pagi jam tujuh dan sore jam tiga atau lima. Untuk tandan tempat kita ambil airnya itu dalam sebulan empat kali kita potong,” terangnya.

Hasil air yang tertampung bisa langsung diminum maupun dimasak sesuai selera.

Namun kebanyakan pembeli mencari air yang baru diturunkan dari pohonnya untuk langsung diminum. Alasannya karena lebih segar.

Minuman tuak manis ini, kata Muzakir tidak enak jika dicampur dengan es batu. Sebab bisa menghilangkan rasa manis alaminya.

”Sehari bisa sampai 30 liter saya turunkan, saya punya enam pohon,” katanya.

”Kalau bulan puasa permintaan tinggi, kita jual Rp 6-7 ribu per botol ukuran 600 mililiter dan Rp 15 ribu ukuran 1,5 liter,” pungkasnya. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#tuak manis #Pusuk