LombokPost-Berawal dari hobi memasak, Rosliana Candraningsih merintis usaha kuliner yang diberi nama Dapur Rosa.
Dulunya, dia pernah bekerja di bagian restoran salah satu hotel di Kota Mataram.
Ketika merintis usahanya, perempuan yang biasa disapa Ros memulai dengan modal Rp 200 ribu.
Dirinya berjualan rice bowl dengan lima varian rasa.
Ada beef black pepper, udang asam manis, rendang daging, beef teriyaki, dan rasa tradisional.
”Rice bowl tradisional ini isinya kombinasi makanan khas Lombok. Awalnya saya buka sederhana di rumah, sampai sekarang juga masih jualan di rumah,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, dirinya pun mencoba mengembangkan menu lainnya. Perempuan berhijab ini memulai dengan minuman.
Aneka minuman yang dibuatnya berbeda dengan lainnya dan memiliki nama-nama yang unik.
Ada es suasana hati, es cuek, es pelakor, dan lainnya. Semua menu minuman ini mendapatkan respons yang baik dari konsumen.
Aneka minuman ini sempat dibuat sebagai franchise.
Hanya saja, dirinya terkendala pada saat pembuatan izin produknya. Hal itu lantaran di MUI mengharuskan penggunaan nama yang lazim.
”Akhirnya saya ubah namanya, tapi rasanya tetap sama,” sambungnya.
Berbicara soal minuman best seller, itu es jelly dan es teler sultan. Menu es teler sultan ini akan diluncurkan dua bulan lagi, selepas dirinya umrah.
Outletnya akan dibuka di depan Rumah Sakit Awet Muda Narmada.
Es teler sultan ini, sebenarnya sama seperti es teler pada umumnya. Yang membedakan adalah penambahan kuah kental yang merupakan racikannya sendiri.
Racikannya tersebut sudah pasti berbeda dengan penjual-penjual lainnya.
Awalnya Rosliana ingin menggunakan es krim sebagai bahan es teler sultan ini.
Namun melihat daya beli masyarakat apalagi di desa, akhirnya tidak jadi menggunakan itu.
Jika menggunakan es krim, maka es tersebut dijual sebesar Rp 15 ribu per cup. Nominal ini dirasa cukup mahal bagi konsumen di kawasan tersebut.
”Makanya kita jual dengan harga Rp 10 ribu, strateginya dengan kuah kental bukan es krim,” jelasnya.
Selain rice bowl dan aneka minuman, Dapur Rosa juga menjual aneka kue kering. Kue kering ini biasanya diproduksi ketika bulan puasa, terutama menjelang Idul Fitri.
Terkait franchise, Rosliana memiliki enam jenis produk. Baik itu produk makanan maupun minumannya.
Dirinya menerapkan sistem sharing profit. Namun ada juga yang langsung membeli produk dan brand-nya.
”Modelnya kita kontrak dengan pihak ketiga, tinggal bagi hasil saja sesuai dengan kesepakatan. Polanya, semua bahan baku baik gerobaknya maupun lainnya dari saya, pihak ketiga hanya menjual saja. Jadi tidak ada persyaratan lain hanya cukup bawa diri saja,” terangnya.
Salah satu franchise makanan lainnya yang cukup populer berupa Korean food.
Pada saat pertama kali dibuka, satu outletnya memiliki omzet sebesar Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta per hari.
Dalam sebulan dirinya bisa menghasilkan penjualan sekitar Rp 30 juta per outletnya dari produk ini.
”Itu tersebar di beberapa titik, ada satu di Labuapi,” katanya.
Hanya saja sistem yang dijalankan Rosliana ini memiliki kelemahan. Dirinya harus mencari orang yang benar-benar bisa dipercaya.
Dirinya pernah mengalami pengalaman yang kurang mengenakkan di mana salah satu mitranya tidak jujur.
Mitranya itu mengambil keuntungan pribadi di luar kesepakatan.
”Misalkan pendapatannya Rp 1 juta, dia hanya laporkan Rp 700-800 ribu, jadi tidak jujur, itu kelemahan sistem saya,” bebernya.
Meski mengalami suka duka dalam merintis usahanya, Rosliana tetap bersyukur. Sebab tujuan utamanya dalam usahanya juga membantu orang lain sekalian bersedekah.
”Seiring berkembangnya usaha Dapur Rosa ini, Rosliana terus belajar banyak hal. Dirinya bahkan mendapatkan pelatihan dari Chef Belanda bernama Theo Vandred. Mulai dari menciptakan menu, teknik marketing hingga jaringan pemasaran produk.
Dirinya juga ikut dalam organisasi pengusaha perempuan Lombok Womanpreneur Club (LWC).
Bahkan dirinya berkesempatan ikut dalam event MXGP seri 11-12 di eks bandara Selaparang, belum lama ini.
”Ada banyak pengalaman menarik, pagi mengajar pulangnya jualan, ikut bazar panas-panasan, jualan sampai tengah malam, dan banyak lagi pengalaman lainnya,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida