LombokPost-Masyiah, warga Desa Pusuk Lestari, Kabupaten Lombok Barat sudah menjalani usaha gula aren selama 10 tahun lamanya.
Sebelum itu, dirinya bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Arab Saudi.
Perempuan paro baya ini mengatakan, berjualan gula aren cukup menjanjikan.
Hal itu lantaran produk ini sudah memiliki pangsa pasarnya sendiri. Gula aren banyak dicari sebagai bahan baku untuk membuat aneka panganan masyarakat.
”Seperti aneka kue pasar, minuman es, dan lainnya,” ujarnya.
Gula aren ini diakui Masyiah menjadi produk jualan yang potensial selain tuak manis di kawasan Pusuk Lestari. Dulunya, gula aren yang dijual itu diproduksi langsung orang tuanya. Kemudian diteruskan oleh adik laki-laki Masyiah.
Namun setelah adiknya wafat, gula aren yang dijual tidak lagi buatan sendiri.
Dirinya memesan itu di salah satu pembuat gula aren yang kini menjadi langganannya.
Satu bungkus yang dijual berisi dua keping gula aren. Harganya Rp 50 ribu. Kadang ditawar pembeli menjadi Rp 40 ribu per bungkusnya.
”Keuntungannya tidak banyak, yang penting lancar,” sambungnya.
Masyiah biasanya menjual minimal 10 bungkus gula aren per harinya. Namun ketika ramai, bisa terjual dua hingga tiga kali lipat dari jumlah itu. Artinya, dirinya bisa mendapatkan minimal Rp 500 ribu dan maksimal Rp 1-1,3 juta dalam sehari.
”Ramai itu biasanya ketika momen-momen hari besar, seperti bulan puasa dan lebaran,” katanya.
Membuat gula aren ini diakuinya tidak sulit, hanya prosesnya yang memakan waktu lama. Bahan dasarnya merupakan air dari pohon nira atau yang biasa disebut tuak manis. Proses membuatnya bisa memakan waktu satu hari penuh.
Setelah dimasak selama kurang lebih delapan jam, gula yang sudah jadi diletakkan dalam cetakan dari batok kelapa. Setelah itu didiamkan hingga keesokan harinya dibungkus untuk dijual ke konsumen.
Kata dia, hal yang membedakan gula aren Pusuk Lestari dengan gula lainnya, karena tidak menggunakan campuran apa pun. Itu murni air dari pohon nira. Gula merah dari tempat lain terkadang menggunakan campuran kelapa parut.
”Di sini full tanpa campuran,” tegasnya.
Bahkan, tuak manis yang tidak habis terjual masih bisa diolah menjadi gula aren. Manis yang dihasilkan tetap alami tanpa campuran. Menghasilkan sepasang gula aren membutuhkan 15-20 botol tuak manis.
Masaknya pun khusus menggunakan kayu bakar. Dalam prosesnya, ada cukup banyak kayu bakar yang dihabiskan.
Tak hanya itu, kondisi api saat memasak pun harus tetap dikontrol, agar pada saat proses memasak airnya tidak meluber.
Salah seorang pembeli gula aren Nuraini mengatakan, dirinya sudah biasa menggunakan gula aren Pusuk Lestari sebagai bahan makanan olahannya. Hal itu lantaran rasa manis yang dihasilkan gula aren ini sangat khas.
”Setiap mau bikin olahan berbahan gula merah pasti belinya ke sini,” katanya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida