LombokPost--Pertumbuhan ekonomi NTB di triwulan II 2024 berdasarkan kalender tahunan (yoy) tumbuh signifikan sebesar 11,06 persen. Sedangkan secara triwulan (q to q), ekonomi NTB tumbuh sebesar 5,90 persen.
“Pertumbuhan ekonomi NTB merupakan tertinggi nomor 2 di Indonesia,” ujar Kepala BPS NTB Wahyudin, Senin (5/8).
Dijelaskannya, pertumbuhan ekonomi NTB tanpa tambang secara kalender tahunan (yoy) hanya sebesar 4,83 persen.
Artinya, sektor tambang masih memberikan sumbangsih paling besar bagi pertumbuhan ekonomi NTB.
Dibandingkan dengan di triwulan II tahun 2023, pertumbuhan ekonomi NTB dengan tambang secara kalender tahunan justru mengalami minus.
Hal itu lantaran ekspor tambang data itu 0 persen. Sedangkan tanpa tambang, tumbuh sebesar 4,11 persen.
Sementara secara kuartal (q to q) dengan tambang, pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 5,90 persen. Jika tanpa tambang, ekonomi NTB tumbuh sebesar 6,66 persen.
“Secara q to q di triwulan II, pertumbuhan ekonomi NTB tanpa tambang lebih besar dibandingkan dengan tambang,” sambungnya.
Capaian ini lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya.
Ekonomi NTB dengan tambang mengalami kontraksi sebesar 1,36 persen, dan tanpa tambang 0,81 persen (q to q).
Diterangkannya, perekonomian NTB berdasarkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku Triwulan II-2024 mencapai Rp 46,80 triliun, dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 28,06 triliun.
Untuk pertumbuhan 11,06 persen (yoy) dari sisi produksi, Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 46 persen.
“Sumbangan pertumbuhan paling tinggi adalah sektor tambang,” katanya.
“Sedangkan dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 92,20 persen,” bebernya.
Sementara untuk pertumbuhan 5,90 persen (q to q) dari sisi produksi, Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 16,17 persen.
Disusul Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 15,48 persen, serta Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 14,61 persen.
Dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 24,57 persen.
Disusul komponen pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 5,67 persen, dan komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 3,01 persen.
Lebih lanjut diterangkan Wahyudin, ekonomi NTB Semester I 2024 (c to c) terhadap Semester I-2023 mengalami pertumbuhan sebesar 7,90 persen.
Dari sisi produksi, pertumbuhan terbesar terjadi pada Lapangan Usaha Pertambangan dan Penggalian sebesar 27,17 persen.
“Sementara dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi terjadi pada Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 37,20 persen,” jelasnya.
Wahyudin menambahkan, ada beberapa catatan peristiwa penting yang terjadi di triwulan II 2024.
Di antaranya, pergeseran musim panen raya yang menyebabkan peningkatan produksi padi dan jagung dibandingkan triwulan sebelumnya.
“Hari Raya Idul Adha pada triwulan II 2024 ini meningkatkan pemotongan ternak di RPH,” ujarnya.
Kemudian data jumlah penumpang berangkat pada angkutan udara meningkat 9,60 persen dibandingkan triwulan II 2023. Yakni meningkat dari 290.369 penumpang menjadi 318.253 penumpang
Jumlah tamu hotel di NTB selama triwulan II 2023 sebanyak 401.846 orang, meningkat menjadi 523.430 orang pada triwulan II 2024.
Rata-rata TPK hotel bintang triwulan II 2024 meningkat dibandingkan dengan triwulan II 2023, yaitu dari 32,14 Persen menjadi 37,53 Persen
Realisasi belanja pegawai APBD Provinsi NTB dan total Kabupaten/Kota triwulan II 2024 mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan II 2023.
Meningkatnya realisasi belanja pegawai triwulan II-2024 dipengaruhi pencairan gaji ke 14 untuk ASN mendekati hari raya Idul Fitri 2024.
Peningkatan ekspor signifikan terjadi karena dibukanya kembali izin ekspor konsentrat PT AMNT.
Ekspor Luar Negeri selama triwulan II-2024 mengalami peningkatan tinggi.
Tercatat sebanyak USD 13,2 juta pada triwulan II 2023 menjadi USD 840 juta pada triwulan II 2024.
“Peningkatan ini disebabkan oleh tidak adanya aktivitas ekspor konsentrat tembaga pada triwulan II 2023,” terangnya.
“Impor Luar Negeri selama triwulan II-2024 tercatat sebanyak USD 292 juta, meningkat dibandingkan dengan triwulan II 2023 yang tercatat sebanyak USD 77 juta,” tandasnya.
Sementara itu, Sekda NTB H Lalu Gita Ariadi berharap tren positif ini bisa bertahan di triwulan III dan IV 2024 nantinya.
Sehingga bisa bermuara pada angka pertumbuhan ekonomi kumulatif 2024 yang menggembirakan.
“Memang untuk sawah-sawah kelas satu terus berproduksi di areal tertentu sehingga membuat gabah kita cukup aman, pertanian rasanya cukup aman, stok pangan kita tersedia dengan baik,” ujarnya.
Kemudian soal penumpang berangkat yang mengalami peningkatan, pria yang disapa Miq Gita ini mengatakan, hal ini membuktikan APBN dan APBD di triwulan I 2024 belum bergerak.
Sehingga kegiatan Meeting, Incentive, Convention dan Exhibition (MICE) belum bisa dilaksanakan.
“Pertemuan dan rapat kerja nasional belum ada, angka sekarang mungkin mengacu pada event TTG dan sebagainya sehingga sudah mulai bergerak MICE,” jelasnya.
Ditambahkannya, jumlah penumpang di triwulan III dan IV diasumsikan ada kenaikan.
Hal itu dikarenakan sejak Juli sudah ada event besar. Termasuk pada September mendatang aka nada event MotoGP Mandalika 2024.
“Arus penumpang di triwulan III patut diduga ada kontribusi positif, walaupun ada potensi inflasi juga nantinya,” katanya.
“Mudahan ini (inflasi, Red) normal bukan anomali,” pungkasnya. (fer)
Editor : Kimda Farida