LombokPost--Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Rinjani Lombok Timur memberdayakan masyarakat melalui pengolahan berbagai hasil pertanian.
Saat ini tercatat 21 kelompok Industri Kecil Menengah (IKM) menjadi binaan.
Pendiri KWT Putri Rinjani, Syaeun, 45 tahun, mulai memberdayakan masyarakat, khususnya perempuan sejak 2006 lalu.
Semua berawal dari peristiwa banjir bandang yang melumpuhkan jalur pertanian dan menghentikan distribusi hasil bumi saat itu.
Syaeun berinisiatif mengolah hasil panen seperti stroberi, wortel, kentang, kopi, dan bawang putih. Sehingga hasil bumi ini tidak rusak lantaran tidak bisa dijual ke luar.
Dirinya mengajak 16 perempuan dari berbagai dusun di desanya itu untuk dilatih membuat produk olahan.
”Saat itu kita membuat stik stroberi,” ujar perempuan kelahiran Desa Sembalun Bumbung ini.
Saat ini, tercatat 42 orang perempuan menjadi anggota KWT Putri Rinjani dan menjadi koordinator kelompok usaha.
Masing-masing koordinator membawahi unit-unit usaha di bidang pengelolaan hasil pertanian.
Hal menarik dalam pengembangan industri rumah tangga yang dikembangkan KWT Putri Rinjani ini, keuntungan usahanya disisihkan 10 persen.
Digunakan untuk memberikan modal usaha dan membeli alat produksi sederhana bagi IKM binaannya.
Tidak hanya fokus pada keuntungan, Syaeun juga bertekad untuk terus memberikan manfaat bagi sesama.
Sehingga tidak mengherankan jika Syaeun terpilih menjadi salah satu kandidat untuk penghargaan Upakarti dari Kementerian Perindustrian RI.
Pekan lalu, Syaeun tampil memukau di hadapan dewan juri pada tahap akhir penilaian penghargaan Upakarti Kementerian Perindustrian RI.
Dirinya didampingi tim Dinas Perindustrian NTB saat menyampaikan presentasi mengenai upayanya mengembangkan KWT Putri Rinjani hingga saat ini.
Sejumlah hasil pertanian yang diolah Syaeun di KWT Putri Rinjani di antaranya bawang putih, stroberi, kentang, kacang merah, kopi, wortel, ashitaba (seledri dari Jepang), beat, daun mint, beras merah, serta madu hutan Sembalun, dan lainnya. Produk olahannya diberikan merek bernama ”Malsye”.
Untuk olahan bawang putih dikenal dengan nama black garlic dengan sejumlah varian rasa.
Olahan ini merupakan makanan sehat yang cukup populer di pasaran hingga saat ini.
Produk black garlic pasar Putri Rinjani sudah mencapai luar negeri, yaitu ke Singapura sejak 2018-2020, dengan omzet sekitar Rp 9-11 juta per bulan.
Kemudian ada olahan stroberi berupa stik stroberi, selai stroberi, dodol stroberi, dan minuman segar stroberi dalam kemasan botol.
Olahan kopi berupa kopi arabica Sembalun, kopi robusta Sembalun, dan kopi lanang Sembalun.
Kopi olahan KWT Putri Rinjani ini dalam proses perjanjian kerja sama dengan pengusaha di Abu Dhabi.
KWT pun sudah mengirimkan sample coffee bean ke negara Timur Tengah itu.
Pasar dalam negeri dari produk-produk olahan KWT Putri Rinjani ada di Bali dan Kota Mataram di Sasaku, Titian Hidayah, dan sentra oleh-oleh Lestari.
”Semoga Bu Syaeun berkesempatan mendapatkan Penghargaan Upakarti ini, untuk menjadi motivasi bagi Bu Syaeun dan kelompoknya untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi lokal Sembalun demi kemajuan industri kecil di wilayah NTB,” kata Kepala Dinas Perindustrian NTB Hj Nuryanti. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida