LombokPost--Brand La Rose, merupakan produk salah satu UMKM NTB yang sudah tidak asing lagi di telinga pencinta produk tenun, khususnya tas tenun.
Peminatnya tidak hanya kalagan menengah ke bawah, tapi juga beberapa kalangan atas tertarik dengan produk Rosmini ini.
Rosmini mengatakan, usahanya tercipta setelah dirinya mengalami berbagai musibah. Mulai dari gempa bumi, kebakaran, hingga menghadapi pandemi.
Dirinya membuat tas lokal yang didesain dengan campuran kain tenun NTB. ”Saya melihat ini ada pasarnya,” ujarnya.
Nama La Rose diambil dari kata Ros, bagian depan nama pemiliknya, Rosmini.
Itu dinilai lebih sederhana dan gampang dikenal dan diingat. Sedangkan kata ”La” diakui Rosmini tercipta secara secara spontan saja, tidak ada makna yang berarti.
”Lebih simpel, dan gampang dikenal, kalau La Rose itu adalah tasnya ibu Ros,” sambung perempuan berhijab ini.
Rosmini memulai pembuatan tas dengan menggunakan kain perca pada 2020.
Kemudian pada 2021, mulai produksi dengan menggunakan satu mesin.
Saat ini, dirinya sudah bisa memproduksi skala lebih besar dan memiliki lima karyawan.
Saat itu, tantangan terbesarnya adalah pandemi Covid-19. Dirinya harus bisa bertahan di tengah daya beli masyarakat yang menurun.
Salah satu caranya, dengan menciptakan produk yang unik dan eksklusif. Dirinya pun mulai mencoba mengganti kain perca dengan tenun.
Dia memilih tenun lantaran merupakan salah satu produk unggulan NTB yang beragam dan unik.
Tiap daerah di NTB memiliki tenun dengan motif yang berbeda satu sama lainnya.
Melihat respons pasar yang bagus, akhirnya Rosmini memutuskan untuk total mengangkat tenun.
Mulai dari Sumber Daya Manusia (SDM) untuk tukang jahit hingga alat produksi disiapkan yang paling bagus.
Hal itu dilakukan lantaran menjahit sebuah tas tidak sama seperti menjahit pakaian. Alatnya pun juga berbeda.
Tas tenun kata Rosmini, memiliki pangsa pasar yang bagus.
Peminatnya pun terbilang cukup banyak.
Apalagi di tengah perkembangan industri tenun di NTB saat ini.
Namun dirinya belum melihat ada industri tas yang mengangkat potensi lokal.
”Saya memang senang fesyen, awalnya dari baju dan saya suka dengan tas,” kata perempuan asal Sumbawa ini.
Hal tersebut yang mendorong Rosmini mengembangkan produk tas yang lebih eksklusif.
Desainnya dibuat semenarik mungkin sesuai dengan minat pasar.
Dirinya mengangkat tenun Lombok, Sumbawa, Dompu, dan Bima.
”Pringgasela, Sukarara, Lombok Utara, Sumbawa itu saya angkat jadi satu dalam tenun La Rose ini,” bebernya.
Seiring berjalannya waktu, La Rose mulai ikut dalam berbagai pameran dan event dalam maupun luar daerah.
Selain itu, brand ini juga mendapatkan dukungan dari Dinas Perindustrian, Dinas Perdagangan, Dekranasda, maupun Dinas Koperasi NTB.
”Alhamdulillah, dengan support mereka kita bisa berkembang seperti ini, hingga sudah dikenal,” katanya.
”Produk saya dipasarkan melalui media sosial, kemarin saya ikut pameran di GCC Jakarta, setiap tahun ada di sana,” imbuh ibu dua anak ini.
Rosmini menambahkan, potensi produk lokal perlu diangkat sehingga bisa dikenal luas. Dirinya berpesan pada pelaku usaha lokal lainnya agar tidak patah semangat.
”Mau berkembang atau tidak, mau dikenal atau tidak, jangan patah semangat ,semua produk yang kita punya pasti akan dapat pasarnya,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida