LombokPost---Para pengusaha hotel di Gili Trawangan dan Meno, Desa Gili Indah Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, khawatir kunjungan wisatawan jelang high season akan menurun.
Hal ini mengingat izin PT Tiara Cipta Nirwana (TCN) sebagai penyedia air bersih pulau tersebut telah dicabut Ditjen PKRL Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), beberapa waktu lalu.
Kepala UPT Gili Tramena Mawardi mengatakan, pengusaha hotel maupun restoran khawatir adanya penghentian air saat memasuki high season, menjelang akhir tahun dan tahun baru.
Hal itu dikhawatirkan berimbas pada kunjungan wisatawan.
”Booking-an itu mulai di bulan-bulan ini, tidak mungkin orang ke Gili pas saat high season, mereka pasti pesannya mulai dari sekarang. Jadi kami minta kepastian agar air tidak mati saat high season,” kata Mawardi, Jumat (25/10).
Pihaknya telah mendapat tembusan surat terkait kekhawatiran pengusaha jelang high season.
Mereka mempertanyakan apakah air di dua gili tersebut tetap normal atau tidak pada saat akhir tahun dan tahun baru.
Lantaran jumlah wisatawan domestik maupun asing diprediksi akan sangat ramai seperti pada tahun-tahun sebelumnya.
”Kalau sekarang air masih normal, tapi jangan-jangan mati ketika high season. Karena mau tahun baru, pasti full. Kami tetap update informasi, kewenangan penuhnya ada di Pemda KLU, tapi dari update terakhir Forkopimda KLU sudah sepakat tidak boleh matikan air,” bebernya.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Utara Denda Dewi Tresni Budi Astuti membenarkan kekhawatiran para pengusaha tersebut.
Mereka khawatir air justru akan mati ketika wisatawan tengah berlibur.
”Kekhawatiran pengusaha di Gili Trawangan dan Gili Meno tentu menjadi kekhawatiran kami juga,” ujarnya.
Pihaknya sangat berharap ada solusi terbaik terkait persoalan ini. Sehingga pada tahun depan, persoalan ini sudah tuntas dan tidak berlarut-larut.
Tentunya, pariwisata dan kunjungan wisatawan tidak akan terganggu.
”Karena dampaknya akan sangat luar biasa jika terkait dengan sektor pariwisata,” sambungnya.
Menurut Dewi, jika air berhenti beroperasi, otomatis memengaruhi tingkat kunjungan maupun sektor lainnya.
Sebab itu, pihaknya berencana mendatangi KKP dan Kemenpar untuk membahas persoalan tersebut.
”(Kalau, Red) kunjungan menurun, imbasnya kan ke semua sektor. Mudah-mudahan kunjungan Kementerian KKP dan Kemenpar ada hasil yang baik,” pungkasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida