LombokPost-Pemberlakuan tarif baru pendakian Gunung Rinjani, Lombok Timur mendapatkan respons beragam dari berbagai kalangan.
Kenaikan 100 persen itu dinilai akan menimbulkan pro dan kontra di awal pemberlakuannya.
”Kalau awal-awal pasti ada pengaruh,” kata Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB Jamaluddin Malady, Kamis (31/10).
Jamal menilai, naiknya tarif mendaki Gunung Rinjani pasti telah dikaji kementerian terkait.
Salah satunya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Sebab kabarnya, dari nominal tarif baru itu, akan disisihkan sebagian untuk retribusi sampah.
”Apalagi Sembalun Rinjani kemarin dianggap kurang bersih, banyak sampahnya. Mungkin dari kementerian ini menaikkan tarif tiket agar para wisatawan nusantara maupun mancanegara yang mendaki bisa menikmati pemandangan indah di Rinjani tanpa adanya sampah lagi,” analisa Jamal.
Mantan kepala Disperkim NTB tersebut menuturkan, kenaikan tarif mendaki Gunung Rinjani harus dibarengi dengan pelayanan maksimal. Lingkungan Gunung Rinjani harus jauh lebih bersih.
”Kalau kenangan para tamu saat mendaki gunung itu baik, seperti tidak ada sampah, pasti mereka akan balik lagi ke sini,” tandasnya.
Kenaikan tarif tiket mendaki Gunung Rinjani telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2024, tentang jenis dan tarif penerimaan negara bukan pajak (PNBB) dari KLHK.
Harga tiket mendaki untuk wisatawan domestik naik Rp 20 ribu dari sebelumnya Rp 10 ribu per orang.
Untuk rombongan pelajar domestik naik Rp 10 ribu per orang, dari sebelumnya Rp 5.000 saja.
Bagi wisatawan asing dibanderol Rp 200 ribu dari sebelumnya Rp 150 ribu.
Lalu, untuk pengambilan foto dan video prewedding di area TNGR dikenakan tarif mulai dari Rp 1 juta per paket per lokasi.
Adapun, pengambilan video komersial wisatawan asing dibanderol Rp 20 juta per paket per lokasi, dan wisatawan domestik dibanderol Rp 10 juta per paket per lokasi.
Ketua Trekking Organizer (TO) Lingkar Rinjani Senaru Munawir mengatakan, perubahan tarif pendakian memberikan banyak pengaruh bagi mereka.
Sebab pihaknya tahu persis fasilitas apa yang disuguhkan pada tamunya.
Di satu sisi, pihaknya kesulitan menaikkan harga paket yang ditawarkan pada tamu.
Sebab harga yang ditawarkan di Rinjani itu berbeda. Begitu juga dengan layanan yang diberikan pada tamu juga bervariasi.
Di dunia trekking, ada dua opsi yang ditawarkan, yakni TO basah dan TO kering.
TO basah ini biasanya diberikan oleh TO yang sudah memiliki nama bagus, dan bisa memberikan harga bagi tamu pendaki.
Sedangkan TO kering, merupakan TO pemula atau yang baru merintis usaha trekking. Mereka biasanya memberikan harga promosi bagi tamu.
”Kenaikan itu tidak masalah buat kita asalkan tidak ada lagi tambahan lain,” ujarnya.
Dirinya berharap, dengan kenaikan tarif pendakian ini, pihak berwenang dalam hal ini TNGR bisa memberikan fasilitas yang sesuai.
Sebab ada banyak sekali komplain yang masuk ke pihaknya terkait pihak berwenang yang belum bisa memberikan fasilitas memadai.
”Seperti kebersihan, keamanan, hingga aturan berorganisasi itu yang belum kami rasakan puasnya dari apa yang dilakukan pihak TNGR,” pungkas pemilik TO Rinjani Basecamp Senaru ini. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida