Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Nasib NTB Si Lumbung Pangan, Impor 15 Ribu Ton Beras dari Myanmar dan Pakistan

nur cahaya • Senin, 4 November 2024 | 16:15 WIB

 

 

SEGERA IMPOR: Stok beras di gudang Bulog NTB, beberapa waktu lalu. Bulog NTB berencana lakukan impor beras dari Myanmar dan Pakistan bulan ini.
SEGERA IMPOR: Stok beras di gudang Bulog NTB, beberapa waktu lalu. Bulog NTB berencana lakukan impor beras dari Myanmar dan Pakistan bulan ini.

LombokPost-Bulog NTB berencana melakukan impor 15 ribu ton beras dari Pakistan dan Myanmar November ini. Hal tersebut merupakan upaya antisipasi kekurangan stok, terlebih masa panen raya awal 2025 diprediksi mundur akibat kekeringan panjang.

”Jadi kemungkinan tanam (padi) mundur yah,” ujar Wakil Pimpinan Wilayah (Wapimwil) Bulog NTB Musazdin Said.

Dikatakannya, kekeringan panjang saat ini memungkinkan terjadi mundurnya masa tanam padi. Kecuali, di kawasan yang memiliki sistem pengairan atau irigasi yang bagus, seperti di Narmada. Sedangkan untuk daerah lainnya seperti Lombok Utara dan Lombok Tengah, diperkirakan akan kesulitan melakukan tanam hingga panen tepat waktu.

”Ini yang kita khawatirkan, akan mundur tanamnya,” sambungnya.

Waktu tanam yang mundur tentunya berimbas pada produksi dan panen yang ikut mundur. Biasanya, tren panen raya padi berlangsung di awal tahun atau sekitar April. Kekeringan panjang yang masih terjadi saat ini, bisa menjadi penyebab utama mundurnya masa tanam hingga panen padi.

”Seharusnya November ini sudah mulai intens hujan, tapi kemarin kita lihat baru sehari hujan, terus sudah panas lagi,” terangnya.

Meski stok beras saat ini mencukupi hingga empat bulan ke depan, namun secara nasional masih kurang. Sebab beras ini tidak hanya untuk NTB saja, pihaknya juga harus menyuplai daerah yang kekurangan di provinsi terdekat lainnya.

”Seperti NTT tidak ada produksi di sana, terus Bali, dan Papua juga sebagian,” ucapnya.

”Ini sebagai buffer stock, tidak semata-mata untuk NTB,” imbuhnya.

Sebab itu, dirinya menilai sebenarnya perlu mendatangkan beras dari luar untuk mengantisipasi ketercukupan stok. Beras yang didatangkan tersebut juga bukan hanya untuk NTB saja, tapi juga untuk mendukung wilayah di provinsi terdekat dengan NTB.

Baca Juga: Mandiri MFoS 2024 Round 3, Aksi Balap Time Attack hingga Atraksi Stunt Riders untuk Penonton

Kata Musa, Bulog NTB saat ini memiliki space untuk mendatangkan beras dari luar. Jumlahnya kurang lebih 15 ribu ton, rencananya didatangkan dari Myanmar dan Pakistan. ”Kepastiannya nanti dari kantor pusat, kita menerima kayak semacam telegram,” tandasnya.

Berdasarkan hasil Survei KSA (Kerangka Sampel Area) dalam data BPS NTB, puncak panen padi pada 2024 berbeda dengan tahun sebelumnya, yaitu terjadi pada April. Luas panennya mencapai 71,28 ribu hektare.

Kemudian puncak panen padi pada April 2024 relatif lebih rendah. Jumlahnya turun sekitar 2,49 ribu hektare atau 3,37 persen dibandingkan Maret 2023. Realisasi panen padi sepanjang Januari−September 2024 sebesar 251,44 ribu hektare. Jumlahnya juga turun sekitar 11,89 ribu hektare, atau 4,51 persen dibandingkan tahun lalu.

Untuk potensi luas panen padi pada Oktober−Desember 2024 diperkirakan sekitar 28,58 ribu hektare. Dengan demikian, total luas panen padi pada 2024 diperkirakan sebesar 280,03 ribu hektare. Jumlah tersebut turun sekitar 7,49 ribu hektare atau 2,60 persen dibandingkan luas panen padi pada 2023 yang sebesar 287,51 ribu hektare. (fer/r9)

Editor : Redaksi Lombok Post
#bulog #Beras #Kekeringan #NTB