LombokPost-Geliat budi daya anggur sedang berkembang pesat di tengah masyarakat NTB.
Potensi pundi Rupiah yang dihasilkan membuat banyak orang tergiur mengembangkan komoditas buah ini.
Sebab tidak hanya dari buah yang dihasilkan, cuan juga datang dari penjualan bibitnya.
Seperti yang dilakukan Jemi Bahari, pemilik kebun anggur Aqmar NB Grape di Desa Bentek, Lombok Utara.
Kata dia, potensi budi daya anggur cukup besar. Apalagi produksi anggur di KLU juga dikenal dengan kualitas buahnya yang manis.
Selama dua tahun dirinya menggeluti usaha ini, keuntungan yang didapat cukup besar.
Padahal tanaman merambat ini hanya ditanam di lahan seluas 8 are.
Dirinya bisa memperoleh omzet hingga jutaan Rupiah ketika panen.
”Lumayan besar, saya menjual buahnya hanya Rp 50 ribu sampai Rp 80 ribu per kilogram, saya juga dapat penghasilan lainnya dari penjualan bibit,” beber Jemi.
Dikatakannya, usaha jual beli dan budi daya anggur ini dilakukannya secara mandiri.
Artinya, mulai dari pembibitan, perawatan, dan lainnya dilakukan sendiri.
Hingga saat ini, dirinya belum mendapatkan bantuan pemerintah dalam mengelola kebun anggurnya. ”Selama ini memang pakai biaya sendiri semuanya,” sambungnya.
Saat ini, Jemi berhasil mengembangkan puluhan jenis anggur impor di kebun kecil miliknya itu.
Beberapa di antaranya merupakan anggur jenis sultan, seperti moondrop, halloween, dan tamaki, dan masih banyak lagi.
”Alhamdulillah ada 60 jenis yang sudah kita kembangkan di sini, dan itu semua valid,” beber pria 36 tahun itu.
Dirinya berharap, ke depan bisa mendapatkan bantuan untuk mengembangkan usahanya.
Dengan adanya bantuan dari pemerintah, dirinya memiliki mimpi mendirikan perkebunan anggur dengan skala produksi industri, sebagai salah satu komoditas unggulan di Gumi Dayan Gunung.
Salah satu tokoh masyarakat KLU Artadi mengatakan, potensi pengembangan budi daya anggur juga bagus, selain kurma. Banyak masyarakat mulai tertarik mengembangkan buah tersebut.
”Sekarang saya lihat di berbagai sudut, masyarakat kita banyak menanam anggur, entah skala rumah tangga maupun skala pertanian,” ujarnya.
Menurut dia, pemda hendaknya mulai menaruh perhatian lebih pada potensi pertanian anggur di KLU.
Hingga saat ini belum ada petani yang mampu menyediakan buah anggur dalam skala produksi industri.
Rata-rata, pemilik perkebunan anggur di KLU habis menjual anggurnya di masyarakat setempat saja dengan tajuk wisata petik anggur.
”Ini saatnya pemerintah memperhatikan mereka, entah dari sektor anggaran dan bantuan dalam bentuk yang lain. Memang kalau kita lihat ada beberapa hal yang cukup mahal dalam bertani anggur misalnya seperti para-para, itu yang mestinya pemerintah berikan stimulan,” tegas anggota DPRD KLU ini. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida