“Kondisi (bapok) pasar kita masih stabil, harga memang ada kenaikan, terutama di klaster cabai-cabaian,” ujar Kepala Disdag NTB Baiq Nelly Yuniarti saat dikonfirmasi di Mataram, Rabu (25/12).
Nelly menuturkan, naiknya harga sejumlah bapok di pasar-pasar tradisional karena beberapa faktor. Di antaranya, karena pengaruh cuaca buruk hingga permintaan yang tinggi.
“Pengaruhnya banyak, harapan kita memasuki Ramadan nanti, angka ini sudah mulai turun,” jelasnya.
Dari data Disdag NTB, harga bapok cabai rawit merah mengalami kenaikan yang cukup tinggi, yakni sampai 21 persen. Yakni dari Rp 28.550 menjadi Rp 36.317 atau naik Rp 7.767 per kilogramnya.
Kenaikan ini jauh lebih tinggi dibandingkan pada 20 Desember 2024 yang hanya naik sebesar 1 persen atau setara Rp 367 per kilogramnya.
Kemudian disusul cabai merah besar naik 14 persen, yakni dari Rp 39.233 menjadi Rp 45.553 atau naik Rp 6.300 per kilogramnya.
Tak hanya itu, cabai rawit hijau juga mengalami kenaikan hingga 13 persen. Yakni dari Rp 19/283 menjadi Rp 22.050 atau naik Rp 2.767 per kilogramnya.
Sementara itu, cabai merah keriting naik sebesar 4 persen dari Rp 36.000 menjadi Rp 37.483 atau naik Rp 1.483 per kilogramnya.
“Yang naik itu di cabai, tapi kalau beras (harganya) mulai terkendali. Yang turun mulai dari bawang, tapi kalau daging ayam ndak terlalu signifikan naiknya, naik sih, tapi tidak terlalu menjerat ke konsumen. (Yang pasti) stok ayam masih (cukup),” tutur mantan Pjs Bupati Dompu tersebut.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram Uun Pujianto mengatakan naiknya harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional dikarenakan stok yang terbatas.
“Kondisinya memang lagi terbatas, biasanya pedagang terima 10 kilogram, sekarang dikurangi jadi 3 kilogram (untuk dijual),” kata Uun di Mataram.
Menurut Uun, ada indikasi permainan harga pada harga daging ayam ras di sejumlah pasar tradisional di Kota Mataram.
“Kita akan turun, apakah ini permainan harga jelang Nataru. Untuk sementara, kita gelar pasar rakyat untuk memenuhi permintaan masyarakat,” tandas Uun. (fer)
Editor : Kimda Farida