LombokPost-Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram melakukan pengawasan terhadap penjualan obat, kosmetik, dan makanan melalui toko online.
Tercatat 138 link toko online yang telah ditutup lantaran ketahuan menjual produk tanpa izin edar atau ilegal.
”Kami telah meminta agar dilakukan take down terhadap tidak kurang dari 138 link atau tautan toko online,” ujar Kepala BBPOM Mataram Yosef Dwi Irwan.
Dari 138 toko online ini nilai transaksinya mencapai Rp 600 juta.
Penutupan toko online ini dikatakan tidak semudah dibayangkan. Hal itu lantaran jaringan pelaku cukup lihai mengelabui petugas.
”Ditindak satu toko online, muncul lagi 10 toko online serupa. Mereka memberikan link yang sepintas seperti tidak ada kaitannya dengan produk ilegal, tapi ternyata isinya justru berkaitan,” sambungnya.
Lebih lanjut Yosef mengatakan, angka transaksi toko online ilegal selama 2024 ini mencapai Rp 22 miliar. Transaksinya tersebar di berbagai platform online.
Dirinya mengingatkan pembeli agar lebih jeli dan tidak terkecoh saat membeli produk.
”Salah satunya dengan menanyakan kepada akun yang menjual produk itu apakah produk yang dijual punya izin edar atau tidak,” terangnya.
Meski penjual menyebutkan izin edarnya, BBPOM Mataram menyarankan untuk melakukan pengecekan kembali. Hal itu bisa diperiksa kembali melalui platform BPOM Mobile.
”Maka akan ketahuan produk itu asli atau palsu,” ujarnya.
Patroli siber di Pulau Lombok dilakukan BBPOM Mataram, sedangkan di Pulau Sumbawa oleh Saka POM Bima.
”Hasil patroli siber ini kami laporkan ke pusat, di pusat kemudian disampaikan Kemenkominfo untuk dikakukan take down,” jelasnya.
epala Disdag NTB Baiq Nelly Yuniarti mengatakan, pihaknya juga ikut berkolaborasi dalam pengawasan produk pangan, obat hingga kosmetik yang diperjualbelikan, baik offline maupun online.
Hasil pengawasan yang dilakukan pun terbilang cukup menggembirakan lantaran banyak sarana distribusi produk pangan, obat, hingga kosmetik yang memenuhi ketentuan.
”Artinya, ada jaminan keamanan bagi masyarakat kita terkait produk-produk yang beredar, khususnya di Pulau Lombok,” ujarnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida