LombokPost-Ekspor non tambang NTB di tahun 2024 mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Hal ini diduga lantaran permintaan sejumlah komoditas ekspor ini justru lebih besar dari dalam negeri.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) NTB Baiq Nelly Yuniarti mengatakan, jagung merupakan salah satu komoditas ekspor yang mengalami penurunan.
“Kemungkinan besar jagung ini lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” ujarnya.
Selain jagung, kopi juga menjadi komoditas lainnya yang mengalami permintaan dalam negeri yang tinggi.
Hal ini terlihat dari banyaknya produk kopi NTB yang beredar di pasar domestik.
Penyebab lain menurunnya ekspor kopi juga disebabkan oleh tingginya harga kopi dalam negeri.
Hal ini seiring dengan semakin banyak kafe dan kedai kopi yang muncul.
Melalui harga yang kompetitif dan permintaan konsumen yang meningkat, menjadi pilihan para petani maupun pengusaha kopi.
”Jadi kopi kita ini lebih banyak terserap di dalam negeri dibandingkan pasar internasional,” bebernya.
Selanjutnya ada komoditas rumput laut. NTB juga kerap melakukan ekspor terhadap komoditas ini. Namun, komoditas rumput laut menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan jagung dan kopi. ”Harga rumput laut mengalami penurunan di pasar internasional, sehingga memerlukan perlakuan khusus untuk mempertahankan daya saing,” jelasnya.
Untuk rumput laut, kendala utamanya bukan pada produksi, tapi mekanisme pengiriman. Pengirimannya dilakukan lewat Jawa Timur, seperti Surabaya. Akibatnya, SK ekspor tercatat sebagai milik Jawa Timur, bukan NTB.
Penurunan ekspor non tambang ini memberikan dampak signifikan terhadap pendapatan daerah. Termasuk juga posisi NTB dalam peta perdagangan internasional. “Kami percaya bahwa dengan kerja sama yang baik antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, ekspor NTB akan kembali meningkat,” tandasnya. (fer/r9)
Editor : Kimda Farida