Semua parameter seperti aset, pembiayaan, Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), laba, dan modal inti terus tumbuh.
Pada 2016 aset Bank Dinar tercatat Rp 176,741 miliar. Saat tutup buku pada Desember 2024 asetnya tumbuh sangat signifikan di angka Rp 1,468 triliun. Artinya ada pertumbuhan sebesar 1,291 triliun atau setara dengan 730,78 persen.
Pembiayaan Bank Dinar pada Desember 2016 sebesar Rp 129,588 miliar. Delapan tahun kemudian, di Desember 2024 pembiayaan menjadi Rp 1,212 triliun.
“Jadi sudah tumbuh Rp 1,082 triliun atau setara dengan 835 persen,” kata Direktur Utama Bank Dinar Mustaen.
Dana Pihak Ketiga pada Desember 2016 sebesar Rp 123,314 miliar. Kemudian pada Desember 2024 sudah menjadi Rp 1,080 triliun. Tumbuh Rp 957,538 miliar atau setara dengan 776,50 persen.
Semakin rendah NPF maka bank akan semakin mengalami keuntungan.
Pada Desember 2016 NPF Bank Dinar sebesar 2,47 persen. Selanjutnya, pada Desember 2024 menjadi 0,59 persen. “Itu gross ya,” kata Mustaen.
Awalnya laba Bank Dinar pada Desember 2016 sebesar Rp 5,064 miliar. Kemudian tumbuh signifikan menjadi Rp 37,654 miliar pada Desember 2024 atau meningkat 643,56 persen.
“Laba bersih yang sudah kita serahkan selama 8 tahun (2017-2024) sebesar Rp 214,980 miliar,” kata Mustaen.
Modal Inti yang dimiliki Bank Dinar pada 2016 sebesar Rp 23,981 miliar. Pada Desember 2024 angkanya sudah mencapai Rp 146,905 miliar. Terdapat kenaikan Rp 122,924 miliar atau tumbuh 512,59 persen
Pertumbuhan 2023-2024
Sementara itu, selama satu tahun terakhir (2023-2024) aset Bank Dinar tumbuh 21,31 persen. Dari Rp 1,210 triliun di 2023 menjadi Rp 1,468 triliun pada 2024.
Pembiayaan juga mengalami pertumbuhan sebesar 28,05 persen. Dimana pada tahun 2023 pembiayaannya sebesar Rp 946,837 miliar tumbuh menjadi Rp 1,212 triliun pada 2024.
Pendanaan mengalami kenaikan 18,45 persen. Pada 2023 pendanaan sebesar Rp 912,471 miliar, naik menjadi Rp 1,080 triliun pada 2024.
Laba pun naik 25,40 persen, dari Rp 30,028 miliar pada 2023 menjadi Rp 37,654 miliar.
NPF -44,86 persen. Dari 1,07 persen pada 2023 menjadi 0,59 persen di 2024. “Karena turun kan jadi minus,” kata Mustaen.
Lantas, strategi apa yang telah dijalankan Bank Dinar selama delapan tahun sehingga bisa terus tumbuh?
“Kalau strategi detail, nggak bisa kami sampaikan,” jawab pria yang menjabat direktur utama Bank Dinar sejak 2017 ini.
Tetapi secara umum, ada beberapa strategi yang dijalankan, antara lain:
- Bank Dinar harus menjadi salah satu solusi permasalahan ekonomi masyarakat. Harus bisa memberi manfaat. Asas-asas syariah diterapkan, bukan hanya dalam tahapan akad, tapi dalam tahapan pelaksanaan, yaitu kemanfaatan, kejujuran, transparansi, dan kualitas pelayanan.
- Terus melakukan inovasi sesuai kebutuhan masyarakat.
- Memberikan return yang baik kepada deposan, penabung.
- Pembiayaan semakin lama semakin kompetitif dengan pesaing, persyaratannya tidak terlalu berat.
Saat ini, Bank Dinar memiliki jaringan 1 kantor pusat, 7 kantor cabang, dan 2 kantor kas, dengan jumlah karyawan 233 orang. Dengan jaringan itu, apa rencana Bank Dinar ke depan?
Mustaen mengatakan, saat ini belum ada bank atau perusahaan swasta lokal yang ekspansi ke luar NTB.
“Kita harapannya bisa melakukan itu,” katanya optimis.
Ekspansi ke luar NTB kemungkinan akan dilakukan pada 2026 bersamaan dengan berdirinya Menara Dinar di kawasan Lingkar Selatan, Kota Mataram.
Pada 2026, Bank Dinar juga berencana melakukan IPO (Initial Public Offering/penawaran saham perdana).
Selain untuk pengembangan, IPO dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat. Efek transparansi dan pengawasannya pun akan lebih bagus. (*)
Editor : Marthadi