Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Makan Bergizi  Gratis (MBG) Dikhawatirkan Dongkrak Inflasi Nasional

nur cahaya • Kamis, 9 Januari 2025 | 11:25 WIB
DISKUSI EKONOMI: Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi NTB Berry Arifsyah Harahap (tengah) saat mendiskusikan perekonomian global, nasional, dan NTB bersama media di Mataram, Kamis (9/1).
DISKUSI EKONOMI: Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi NTB Berry Arifsyah Harahap (tengah) saat mendiskusikan perekonomian global, nasional, dan NTB bersama media di Mataram, Kamis (9/1).

LombokPost-Berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara nasional dikhawatirkan berdampak terhadap inflasi.

MBG bisa mendongkrak inflasi nasional karena banyaknya permintaan bahan pangan tertentu. Misalnya ayam, telur yang bisa menjaddi pilihan makanan bergizi dengan harga yang terjangkau.

”Ini yang dikhawatirkan, semoga inflasi nasional tidak tembus 3,5 persen,” kata Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi NTB Berry Arifsyah Harahap pada media di Mataram, Kamis (9/1).

Kisaran dongkrak inflasi dengan proyeksi 0,3 persen dampaknya terutama ke volatile food.

Semua tentu mendukung program pemerintah. Namun terkait inflasi pangan dicoba tahun 2025 untuk ketahanan pangan.

"Dampak MBG tidak terlalu besar tetapi tetap berpengaruh," ujarnya.

Terkait adanya kenaikan PPN 12 persen untuk barang mewah tetap bisa berdampak inflasi.

Namun dampak atas PPN 12 persen tidak akan terlalu besar.

”Bisa berdampak inflasi tapi tidak besar,” tuturnya.

Dikatakan untuk melihat secara global, inflasi negara maju cenderung naik. Banyak negara mengalami prospek ekonomi melemah.

”Akhir tahun 2024, pertumbuhan ekonomi Indonesia domestik relative baik pada kisaran 4,7 persen hingga 5,5 persen. Proyeksi pertumbuhan perekonomian Indonesia pada tahun 2025 kisaran 4,3 persen hingga 5,1 persen,” tambahnya.

Sejauh ini dilihat fenomena melemahnya konsumsi rumah tangga nasional karena terkena manufaktur.

Penjualan ekspor sedikit kontraksi untuk new ekspor order mengalami gangguan.

Dimana fenomena  ini sama antara negara dunia dengan Indonesia.

Dolar mengalir keluar di triwulan empat 2024.

Dimana dana asing mengalami outflow mengakibatkan nilai tukar rupiah melemah.

Ini masih cukup bagus dibandingkan negara lain misalnya Turki, Brazil, Australia dan Negara Eropa lainnya.

”Indonesia relatif terjaga dengan pergerakan dunia global merupakan fenomena wajar,” jelasnya. 

Adanya aliran modal negara kembali di negara-negara berkembang mengakibatkan nilai tukar dolar makin langka di negara berkembang.

”Dolar alami apresiasi penguatan dibandingkan negara lainnya,” imbuhnya.

Tercatat akhir tahun 2024 terjadi outflow nasional sebesar Rp 775 miliar keluar dari Bank Indonesia.

Diakui memang secara nasional setiap akhir tahun terjadi outflow tapi pada awal tahun sudah kembali. 

”Terjadinya outflow akhir tahun menunjukan perekonomian berjalan dengan baik untuk kegiatan ekonomi,” kata dia. (nur)

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#makan #bergizi #nasional #harga #Inflasi #Mbg #gratis #Negara