Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Berugak Lombok Ternyata Berkualitas Bagus

nur cahaya • Kamis, 16 Januari 2025 | 06:29 WIB

 

PROSES PRODUKSI: Salah satu tukang Herman yang tengah membuat berugak, belum lama ini.
PROSES PRODUKSI: Salah satu tukang Herman yang tengah membuat berugak, belum lama ini.
 

HERMAN, warga Desa Bujak Lombok Tengah memulai usahanya dengan modal yang sangat minim. Hanya Rp 5 juta saja. Dia memulai usaha kerajinan berugak atau gazebo ketika gempa bumi 2018 lalu.

Pada saat itu, banyak masyarakat yang membutuhkan berugak. Terutama di kawasan pusat gempa bumi, di Kabupaten Lombok Utara. Permintaannya paling banyak, jumlahnya mencapai 100 unit berugak dalam momen berdekatan.

Saat itu, berugak digunakan masyarakat korban gempa sebagai tempat beraktivitas sementara. Seperti tempat beristirahat dan tidur, tempat makan, pertemuan, dan lain sebagainya. ”Dari Rp 5 juta itu kita kembangkan, saat itu musim gempa, kebutuhan masyarakat sangat banyak, untuk tidur dan lainnya. Sehingga kita butuh berugak banyak sekali,” tutur Herman.

Berugak buatan Herman ini berbahan baku bambu. Stok bahan baku tersebut diakuinya cukup melimpah di Desa Bujak. Untuk pemasaran, Herman menjualnya secara online di media sosial.

Dirinya bisa menjual minimal satu unit berugak per harinya. Artinya, terdapat 30 bahkan lebih unit berugak bisa terjual dalam sebulan. Satu berugak tersebut dijualnya dengan harga bervariasi tergantung ukuran.

Untuk ukuran 2x2, dijualnya seharga hampir Rp 2 juta. Sedangkan ukuran 2x3 dijual seharga Rp 3 juta. Berugak buatan Herman ini tidak hanya dijual di pasar lokal saja. Dirinya bahkan melayani pembelian luar daerah hingga luar negeri.

Seperti ke Belgia, Australia, Dubai dan Malaysia. Untuk pengiriman ke luar negeri, bisa dilakukan sebanyak empat kali dalam setahun. Membuktikan berugak buatan Lombok berkualitas baik. ”Ke Belgia itu empat unit dikirim lewat kontainer, kita buka bahan bahan bakunya. Kalau ke Malaysia biasanya hanya atapnya saja kita kirim ke sana,” bebernya..

Berbicara soal omzet, Herman mengaku bisa menghasilkan penjualan hingga Rp 100 juta per bulannya. Saat ini, dirinya sudah memiliki 12 karyawan yang membantunya memproduksi berugak. ”Satu unit butuh waktu 3-4 hari, jadi satu orang pegang satu,” katanya.

Selain berugak, dirinya juga melayani pemesanan berupa kursi, rumah bambu, dan lainnya sesuai permintaan konsumennya. Contohnya seperti permintaan dari gili berupa mini bar dan rumah bambu. ”Banyak juga yang minta berugak. Kalau di Gili rata rata banyak yang minta mini bar dan harganya sekitar tiga jutaan,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, setiap usaha tidak selalu berjalan mulus. Ada saja kendala dan tantangan yang dihadapi. Tentunya dibutuhkan kegigihan dan kreativitas agar usaha tersebut bisa terus bertahan. ”Kenapa bisa sampai sekarang ini, waktu korona kami berpikir bagaimana caranya bisa mengisi dapur, kami terus fokus kembangkan inovasi dan kreativitas,” tandasnya. (fer/r9)

Editor : Akbar Sirinawa
#Gazebo #usaha #masyarakat #minim #modal #kerajinan #bambu #pertemuan