LombokPost-Selain beras, penyerapan cadangan jagung pemerintah juga menjadi atensi. Pimpinan Wilayah (Pimwil) Badan Urusan Logistik (Bulog) NTB Sri Muniarti mengatakan, stok cadangan jagung NTB saat ini dalam pantauan dan diharapkan bisa bergerak keluar dari gudang penyimpanan. ”Karena ruangnya kita butuhkan untuk serapan gabah 2025,” ujarnya.
Dikatakan Sri, untuk penanganan cadangan jagung pemerintah di NTB cukup besar. Untuk hal tersebut sudah ada kebijakan dan digodok oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Bulog Pusat. ”Kami tentu masih menunggu,” sambungnya.
Perempuan berhijab ini membantah jika masih banyaknya stok cadangan jagung di gudang lantaran tidak adanya pembeli. Kata dia, pada dasarnya para peternak membutuhkan jagung untuk bahan dasar pakan ayam petelur.
Dirinya memperkirakan hal tersebut dikarenakan stok jagung di pasar masih ada dan harganya cukup bersaing. Pihaknya berharap pusat akan memikirkan skema untuk stok jagung tersebut nantinya. ”Bukan tidak ada yang beli,” tegasnya lagi.
Terkait produksi jagung, Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan, sepanjang Januari hingga Desember 2024 produksi jagung diperkirakan sebesar 1,15 juta ton. Angka ini mengalami penurunan sebesar 127,61 ribu ton dibandingkan 2023 yang sebesar 1,28 juta ton. ”Ada penurunan sebesar 9,96 persen,” ujarnya.
Kendati demikian, NTB tetap merupakan salah satu provinsi penghasil jagung terbesar nasional. Dengan bahan baku yang melimpah, Wahyudin memandang NTB perlu membangun pabrik pakan ternak.
Terlebih ada banyak peternak yang membutuhkan pakan industri. ”Jagung kita melimpah, kalau kita punya pakan ternak sendiri, itu lebih bagus untuk menghidupi penernak unggas, misalnya ayam petelur atau pedaging,” jelasnya.
Sejauh ini, pabrik pakan ada di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Dirinya menilai NTB memiliki potensi serupa karena ada cukup banyak pengumpul jagung saat ini. ”Sehingga pas kalau kita bikin pabrik pakan ternak di sini,” katanya.
Lebih lanjut diterangkannya, potensi luas panen jagung pipilan pada Oktober-Desember 2024 diperkirakan sekitar 27,99 ribu hektare. Sehingga total luas panen jagung pipilan pada 2024 diperkirakan 173,19 ribu hektare. Jumlah ini menurun 5,84 ribu hektare atau 3,26 persen, dibandingkan 2023 sebesar 179,03 ribu hektare. (fer/r9)
Editor : Akbar Sirinawa