LombokPost-Di awal 2025, harga sejumlah komoditas pangan di NTB melonjak. Meski begitu, NTB justru tidak mengalami inflasi secara kalender bulanan (month to month).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari 2025 NTB justru mengalami deflasi 0,55 persen. “Masih di bawah angka nasional sebesar 0,75 persen,” ujar Kepala BPS NTB Wahyudin.
Dijelaskannya, deflasi (month to month) ini terjadi di hampir 34 provinsi di Indonesia. Di NTB, penyumbang deflasi adalah kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar sebesar 10,98 persen dengan andil sebesar 1,57 persen. “Terutama listrik. Deflasi di kelompok ini cukup tinggi hampir 11 persen,” sambungnya.
Sedangkan pada kelompok makanan dan minuman, menyumbang inflasi 2,50 persen dengan andil 0,90 persen. Meski inflasinya tertinggi di kelompok pengeluaran, namun NTB tetap mengalami deflasi lantaran nilai deflasi di kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar di atas 10 persen. “Walau pun kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi cukup tinggi. tetapi karena deflasi yang terjadi di perumahan, air listrik dan bahan baku rumah tangga lebih dari 10 persen atau hampir 11 persen, maka kita tergerus pada Januari ini terjadi deflasi 0,55 persen,” jelas Wahyudin.
Berdasarkan komoditas, lima besar penyumbang andil inflasi di NTB secara bulanan di antaranya, cabai rawit sebesar 0,38 persen, cabai merah 0,20 persen, terong 0,07 persen, sawi hijau 0,05 persen dan tomat 0,04 persen.
Sedangkan lima besar penyumbang andil deflasi secara bulanan di antaranya listrik 1,57 persen, cumi-cumi 0,06 persen, ikan layan/ikan benggol 0,05 persen, udang basah 0,04 persen, dan angkutan udara 0,04 persen. “Andil deflasi di NTB paling tinggi itu disumbang tarif listrik sebesar 1,57 persen,” katanya.
Secara kalender tahun (year on year), inflasi NTB masih terjaga sebesar 0,68 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,45 poin. Inflasi tahunan ini terjadi paling tinggi di Kota Mataram sebesar 1,02 persen.
Inflasi kalender tahun ini terjadi karena adanya kenaikan harga. Hal itu ditunjukkan naiknya indeks kelompok pengeluaran. Di antaranya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,25 persen. Kelompok pendidikan sebesar 3,82 persen.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 3,05 persen. Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,12 persen. Kelompok kesehatan sebesar 2,05 persen dan beberapa kelompok pengeluaran lainnya. “Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi (yoy) pada Januari 2025 di antaranya, emas perhiasan, cabai rawit, perguruan tinggi, sigaret kretek mesin (SKM), minyak goreng, daging ayam ras, cumi-cumi, cabai merah, kacang panjang, dan lainnya,” tandasnya. (fer/r6)
Editor : Redaksi Lombok Post