LombokPost-Bank Indonesia melihat divergensi pertumbuhan ekonomi dunia melebar dan ketidakpastian pasar global hingga kini terus berlanjut.
”Ekonomi AS tumbuh lebih kuat dari prakiraan didukung stimulus fiskal dan kenaikan investasi di bidang teknologi. Di sisi lain, ekonomi Eropa, Tiongkok, dan Jepang terpantau masih lemah akibat penurunan keyakinan konsumen dan tertahannya produktivitas,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Berry Arifsyah Harahap pada media, Senin (10/2).
Ia menjelaskan kuatnya ekonomi AS menahan proses disinflasi dan berdampak pada menguatnya ekspektasi penurunan FFR yang lebih terbatas. FFR merupakan singkatan dari Fractional Flow Reserve yang berarti Cadangan Aliran Fraksional. Kebijakan fiskal AS yang lebih ekspansif mendorong yield UST tetap tinggi (tenor jangka pendek dan panjang). Hal ini mendorong semakin besarnya preferensi investor global untuk memindahkan portfolio ke AS.
”Berbagai perkembangan ini memerlukan penguatan respons kebijakan dalam memitigasi dampak rambatan global untuk tetap menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri,” jelasnya.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan-IV 2024 meningkat 5,02 persen (yoy) di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. Kinerja tersebut didukung konsumsi Rumah Tangga (RT) yang terakselerasi khususnya pada periode Nataru, dan tetap tingginya kinerja investasi. Adapun ekonomi Indonesia keseluruhan tahun 2024 tercatat tumbuh sebesar 5,03 persen (yoy).
”Pertumbuhan ekonomi 2025 diprakirakan tumbuh pada kisaran 4,7-5,5 persen (yoy), sedikit lebih rendah dari prakiraan sebelumnya. Ini seiring dengan melambatnya permintaan negara mitra dagang (kecuali AS) dan konsumsi RT yang masih terbatas khususnya golongan menengah ke bawah. Kedepan, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan dan mendukung penuh Asta Cita Pemerintah, termasuk untuk ketahanan pangan, pembiayaan ekonomi, dan akselerasi digitalisasi.
”Prakiraan pertumbuhan yang tetap baik tersebut turut didukung oleh neraca pembayaran Indonesia (NPI) yang tetap sehat, nilai tukar Rp yang terkendali, dan komitmen BI untuk menjaga inflasi 2025 pada kisaran 2,5±1 persen,” imbuhnya.
Melihat perkembangan yang ada saat ini, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 14-15 Januari 2025 memutuskan untuk menurun BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,00 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50 persen. Keputusan ini konsisten dengan tetap rendahnya prakiraan inflasi 2025 dan 2026 yang terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen, terjaganya nilai tukar Rupiah yang sesuai fundamental untuk mengendalikan inflasi dalam sasarannya, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sementara itu, kebijakan makroprudensial longgar terus ditempuh untuk mendorong kredit maupun pembiayaan perbankan pada sektor prioritas pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja. Termasuk UMKM dan ekonomi hijau, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian. Kebijakan sistem pembayaran juga diarahkan untuk mendorong pertumbuhan, khususnya sektor perdagangan dan UMKM.
”Dengan memperkuat infrastruktur, industri sistem pembayaran, dan akseptasi pembayaran digital,” kata dia. (nur)
Editor : Redaksi Lombok Post