LombokPost-Ekspor NTB pada Januari 2025 mengalami penurunan 97,12 persen lantaran tidak ada ekspor tambang. Meski begitu, ekspor perhiasan berupa mutiara di NTB terus tumbuh menggeliat.
Hal itu terlihat dari data BPS NTB per Januari 2025, perhiasan menjadi kelompok ekspor terbesar, yakni 29,32 persen dari total ekspor. Nilai ekspornya USD 1,140 juta.
Disusul kelompok daging dan ikan olahan USD 965.532 atau 24,83 persen. Kelompok buah-buahan USD 851.243 atau 21,89 persen. Kelompok ikan dan udang USD 729.983 atau 18,77 persen.
Kelompok garam, belerang, kapur USD 110.193 atau 2,83 persen. Kemudian kelompok biji-bijian berminyak USD 40.884 atau 1,05 persen. “Pada Desember 2024, kelompok perhiasan menjadi ekspor kedua terbesar setelah tambang, yakni sebesar USD 3,816 juta atau 2,82 persen,” ujar Kepala BPS NTB Wahyudin.
Nilai ekspor menurut negara tujuan menunjukkan Amerika Serikat dengan nilai terbesar USD 1,123 juta atau 28,88 persen. Disusul Jepang USD 826.168 atau 21,24 persen, Vietnam USD 806.987 atau 20,75 persen, Puerto Rico dengan nilai USD 451.563 atau 11,61 persen. “Berikutnya, Hongkong dengan nilai USD 179.296 atau sekitar 4,61 persen, dan negara lain hanya mencapai 12,90 persen dari total ekspor,” jelasnya.
Terkait ekspor perhiasan, negara tujuannya adalah Jepang, Hongkong, Thailand, dan lainnya. Lebih lanjut dikatakan Wahyudin, nilai ekspor NTB Januari 2025 tidak termasuk tambang dari PT AMNT.
Hal itu dikarenakan bahan mentah hasil tambang tersebut akan mulai diolah di smelter lokal. “Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah dan perekonomian NTB secara keseluruhan,” tandasnya.
Salah satu pengelola showroom perhiasan mutiara NTB, PT Autore Pearl Culture melakukan ekspor dengan nominal mencapai ratusan miliar setiap tahunnya. Hal tersebut menjadikan perusahaan ini sebagai salah satu penggerak utama ekonomi di sektor industri mutiara NTB.
Sebagian besar produksi mereka dengan pasar utama di Australia. “Ekspor kami ke Australia cukup besar. Di sana, pembeli-pembeli dari seluruh dunia datang untuk membeli mutiara NTB,” ujar Presiden Direktur Autore Pearl Culture Francesco Bruno. (fer/r6)
Editor : Jelo Sangaji