Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cara Kendalikan Inflasi, BI NTB Rekomendasikan OPM Hingga Smart Farming

nur cahaya • Selasa, 11 Maret 2025 | 08:04 WIB

 

HIGH LEVEL MEETING: Kepala BI NTB Berry Arifsyah Harahap (kiri) dan Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal (kanan) saat menyampaikan rekomendasi jangka pendek dan jangka panjang pengendalian inflasi.
HIGH LEVEL MEETING: Kepala BI NTB Berry Arifsyah Harahap (kiri) dan Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal (kanan) saat menyampaikan rekomendasi jangka pendek dan jangka panjang pengendalian inflasi.
 

 

LombokPost-Sejak memasuki Ramadan, harga sejumlah komoditas pangan di NTB cenderung mengalami peningkatan. Hal tersebut berpotensi menurunkan daya beli masyarakat.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB Berry Arifsyah Harahap mengatakan, pada Februari 2025 NTB kembali mengalami deflasi minus 0,60 persen (mtm). Jumlah ini lebih dalam dibandingkan deflasi bulan sebelumnya sebesar minus 0,55 persen (mtm). “Beberapa komoditas pangan utama cenderung mengalami peningkatan pada Ramadan,” ujarnya, dalam kegiatan high level meeting pengendalian inflasi.

Beberapa komoditas tersebut di antaranya, bawang merah, daging ayam, telur ayam, hingga gula. Namun, komoditas yang paling signifikan mengalami kenaikan harga di Ramadan tahun ini adalah berbagai jenis cabai.

Meski begitu, di sisi lain, inflasi komoditas beras cenderung menurun. Hal itu sejalan dengan berlangsungnya panen padi subround satu.

Terkait persoalan harga komoditas pangan ini, BI NTB memiliki sejumlah rekomendasi untuk menjaga stabilitasnya. Untuk upaya jangka pendek, BI merekomendasikan melanjutkan pelaksanaan Operasi Pasar Murah (OPM). Kegiatan tersebut difokuskan di wilayah Kota Mataram dan Kabupaten Sumbawa yang memiliki bobot inflasi terbesar. “Serta pasar-pasar utama perhitungan inflasi,” ujarnya.

Terkait disparitas harga yang signifikan pada cabai rawit, dibutuhkan strategi yang tepat untuk mengkomunikasikan harga komoditas per pasar kepada masyarakat. Hal itu dapat dilakukan dengan memanfaatkan media massa dan media sosial.

Upaya selanjutnya, melakukan optimalisasi data neraca pangan melalui kolaborasi antara BI NTB dengan Dinas Ketahanan Pangan (DKP). Melalui data tersebut, pemda diharapkan dapat mengoptimalkan KAD (Kerjasama Antar Daerah) intra wilayah. “Hal ini untuk menanggulangi wilayah yang mengalami defisit komoditas tertentu,” sambungnya.

Jangka panjang, BI merekomendasikan penguatan produksi cabai melalui program infratani. Program tersebut yang dijalankan dengan mengintegrasikan klaster binaan, UMKM binaan, dan pondok pesantren binaan dengan metode smart farming dan pemanfaatan green house.

“Melalui integrasi infratani, terdapat efisiensi bahan baku budidaya cabai,” katanya.

Upaya berikutnya, pengembangan padi varietas gamagora 7 melalui good agriculture practice. Varietas ini merupakan kerja sama BI NTB dengan Universitas Gadjah Mada, sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas padi yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, pengendalian inflasi sangat penting. “Saya bahkan beberapa hari terakhir berkomunikasi dengan asisten, karo ekonomi, kepala dinas perdagangan mengenai langkah-langkah intervensi apa yang kita lakukan dalam waktu dekat, untuk mengendalikan inflasi,” ujarnya. (fer/r6)

Editor : Akbar Sirinawa
#ramadan #harga #Inflasi #OPM #Smart Farming #efisiensi #pengendalian #NTB