Hal ini yang mendorong Pemerintah Provinsi NTB bergerak mengembangkan komoditas satu ini sebagai komoditas unggulan Bumigora lainnya.
Salah satu sasaran pengembangan komoditas kemiri ekspor, ada di Lombok Tengah melalui program Desa Devisa.
Sekretaris Disdag NTB H Heri Agustiadi mengatakan, Desa Devisa merupakan program peningkatan kesejahteraan masyarakat dan daya saing komoditas yang dihasilkan dalam satu wilayah.
Produk yang dihasilkan binaan dapat bersaing menembus pasar ekspor melalui rangkaian kegiatan pelatihan, pendampingan, informasi dan akses pasar.
“Sehingga mampu merambah pasar ekspor dengan produk yang berkualitas dan berdaya saing tinggi,” ujarnya.
Dalam program Desa Devisa klaster kemiri, terdapat 30 petani kemiri yang mendapatkan pendampingan.
Dikatakan Heri, kunci peningkatan nilai ekspor NTB terdapat pada sinergitas antar stakeholder.
Baik pemerintah pusat melalui LPEI, Pemprov NTB dan pemkab, serta para pelaku ekspor atau petani kemiri yang diwakili PT Mujnah Kemiri Lombok.
“Kami berterima kasih pada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang telah memilih NTB sebagai salah satu pioneer pengembangan desa devisa. Sinergitas antar stakeholder yang terlibat inilah yang menyukseskan desa devisa ini,” tandasnya.
Perwakilan petani sekaligus Pemilik PT Mujnah Kemiri Lombok Mujnah menegaskan komitmennya untuk bermitra dengan petani di seluruh desa di NTB.
Hal tersebut sebagai upaya dalam mendukung gerakan menanam pohon kemiri.
“Inisiatif ini kami yakin bukan hanya sebagai langkah pelestarian lingkungan melalui penghijauan, tetapi juga sebagai fondasi penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi desa secara merata,” jelasnya.
PT Mujnah Kemiri Lombok berencana memproduksi kemiri dengan kapasitas hingga 60 ton kemiri kupas per bulan.
Artinya, mereka memerlukan sekitar 270-350 ton kemiri gelondongan setiap bulan.
Produksi PT Mujnah Kemiri Lombok tersebut didukung dengan fasilitas, perlengkapan dan mesin-mesin produksi terbaru.
Selain itu, melalui rencana tersebut juga membuka kesempatan kerja hingga 90 orang tenaga kerja dalam tiga shift.
“Kami sangat optimis bahwa program Desa Devisa dapat benar-benar terwujud sebagai fondasi kekuatan ekonomi nasional dengan mengangkat potensi desa melalui sektor pertanian yang berkelanjutan dan berbasis ekspor,” tegasnya.
Kemiri dari Lombok diminati karena ukurannya yang lebih besar dan warnanya yang lebih putih.
Saat ini, NTB memiliki 100 ribu hektare potensi kawasan hutan yang cocok untuk pengembangan kemiri.
Lahan eksisting seluas 3.000 hektare telah menghasilkan produksi sekitar 200 ton per panen untuk satu kelompok tani. (fer/r6)
Editor : Redaksi Lombok Post