Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Benarkah Efisensi Anggaran Membuat Hotel di NTB Jadi Sepi? Begini Kata BPS

Geumerie Ayu • Senin, 5 Mei 2025 | 12:23 WIB

HOTEL YANG NYAMAN: Holiday Resort Lombok menjadi salah satu pilihan hotel yang ada di Senggigi.
HOTEL YANG NYAMAN: Holiday Resort Lombok menjadi salah satu pilihan hotel yang ada di Senggigi.
LombokPost - Efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah era Presiden Prabowo memiliki dampak di berbagai sektor.

Salah satunya adalah sektor perhotelan di Nusa Tenggara Barat (NTB), dimana menjadi kian sepi karena ni tidak ada lagi acara atau pertemuan yang dilakukan di hotel.

Hal ini terbukti dari jumlah Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di NTB yang mengalami penurunan gegera efisiensi anggaran yang diberlakukan pemerintah.

Baik itu hotel bintang maupun non bintang, dimana hunian kamar di hotel bintang turun sebesar 6,39 poin dan hotel non bintang turun 2,10 poin.

Berdasarkan data BPS NTB, hunian kamar hotel bintang pada Maret 2025 tercatat 26,36 persen, mengalami penurunan sebesar 6,39 poin dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 32,75 persen.

Jika dibandingkan dengan Maret 2024 sebesar 28,45 persen, maka TPK Maret 2025 mengalami penurunan sebesar 2,09 poin.

Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan, berdasarkan kelas hotel bintang, TPK hotel bintang tertinggi dicapai  hotel bintang 3 sebesar 28,95 persen.

Disusul hotel bintang 4 sebesar 28,47 persen dan hotel bintang 2 sebesar 23,88 persen. Berikutnya hotel bintang 5 sebesar 20,75 persen dan hotel bintang 1 hanya sebesar 12,08 persen.

Kabar baiknya, rata-rata lama menginap tamu, kata Wahyudin tercatat sebesar 2,14 hari, mengalami peningkatan sebesar 0,23 hari dibadingkan bulan sebelumnya selama 1,91 hari.

HotelBaca Juga: Produk Manha 99 Tembus Hotel Berbintang

Sedangkan untuk jumlah tamu yang menginap tercatat sebanyak 65.826 orang, terdiri dari 35.767 orang tamu dalam negeri  atau 54,34 persen, dan 30.059 orang tamu luar negeri atau 45,66 persen.

“Jumlah tamu menginap di hotel bintang berkurang sebanyak 17.790 orang atau turun sebesar 21,28 persen,” ujarnya.

 Hotel bintang 4 merupakan pilihan sebagian besar tamu dengan jumlah 29.056 atau sekitar 44,14 persen, dengan tamu dalam negeri sebanyak 13.291 orang dan tamu luar negeri sebanyak 15.765 orang.

Untuk TPK hotel non bintang Maret 2025 tercatat sebesar 20,84 persen. Hunian kamar menurun sebesar 2,10 poin dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 22,94 persen. Jika dibandingkan Maret 2024 sebesar 20,66 persen, mengalami kenaikan 0,18 poin.

Berdasarkan kelompok kamar, TPK tertinggi terjadi pada kelompok kamar 40 dan kelompok kamar 10-24, yaitu sebesar 19,80 persen dan 19,78 persen. TPK terendah terjadi pada kelompok kamar 25-40 dengan TPK sebesar 19,57 persen.

Rata-rata lama menginap hotel non bintang selama 1,74 hari. Ini mengalami peningkatan sebesar 0,10 hari dibandingkan bulan Februari 2025 yang sebesar 1,64 hari.

Jumlah tamu yang menginap di hotel non bintang tercatat sebanyak 47.020 orang. Di antaranya, 28.964 orang tamu dalam negeri  atau 61,60 persen dan 18.056 orang tamu luar negeri atau 38,40 persen.

“Dibandingkan bulan sebelumnya, jumlah tamu menginap di hotel non bintang berkurang sebanyak 12.965 orang atau turun sebesar 21,61 persen,” bebernya.

Hotel non bintang kelompok kamar 10-24 merupakan pilihan sebagian besar tamu dengan jumlah sebanyak 21.743 orang atau sekitar 46,24 persen. Yakni tamu dalam negeri sebanyak 14.483 orang dan tamu luar negeri sebanyak 7.260 orang.

“Rata-rata lama menginap tamu di hotel non bintang selama 1,74 hari, mengalami peningkatan jika dibandingkan Februari 2025 selama 1,64 hari,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) NTB Dewantoro Umbu Joka mengaku prihatin dengan kondisi ini usaha perhotelan saat ini.

“Kunjungan wisatawan sekarang baru mencapai sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat okupansi hotel pun ikut turun,” ujarnya.

HUNIAN MENURUN: Salah satu hotel bintang di Kota Mataram. Berdasarkan data BPS NTB, hunian kamar hotel per Maret 2025 menurun dikarenakan jumlah tamu yang berkurang.
HUNIAN MENURUN: Salah satu hotel bintang di Kota Mataram. Berdasarkan data BPS NTB, hunian kamar hotel per Maret 2025 menurun dikarenakan jumlah tamu yang berkurang.

Penurunan wisatawan saat ini, kata Umbu tidak hanya melumpuhkan usaha perhotelan. Namun jua melumpuhkan berbagai lini usaha yang bergantung pada kedatangan wisatawan.

Para pelaku UMKM di sektor pariwisata, mulai dari penjual suvenir, pedagang makanan dan minuman, hingga penyedia jasa transportasi, juga merasakan imbasnya secara langsung.

Pihaknya mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk bersatu menyuarakan kondisi tersebut ke pemerintah pusat. (fer/r6)

Editor : Siti Aeny Maryam
#hotel bintang #turun #sepi #Kamar Hotel #NTB #Hotel #hunian #BPS NTB