LombokPost - Nilai tukar rupiah kembali tergelincir di tengah bayang-bayang ketidakpastian global. Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, menilai pelemahan rupiah tak lepas dari belum pastinya arah kebijakan dagang Amerika Serikat (AS), terutama dengan China.
"Presiden Donald Trump menyatakan belum memiliki rencana untuk membuka dialog dengan Presiden Xi Jinping," ujarnya melalui pernyataan tertulis di Jakarta, Senin (5/5/2025).
Meski Trump menyebut AS sedang menyiapkan perjanjian dagang dengan beberapa negara dan tetap berdialog dengan China.
Pasar menilai hubungan dagang dua raksasa ekonomi dunia itu masih dalam ketidakpastian tinggi. Apalagi sejak keduanya terlibat perang tarif yang intens hingga April lalu.
Dari Beijing, pemerintah China menyatakan sedang mempertimbangkan perundingan ulang, namun menegaskan hanya akan melanjutkan jika AS menunjukkan itikad baik dan menghentikan kebijakan tarif sepihak.
Tak hanya ketegangan dagang, investor juga bersikap wait and see menjelang pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) akhir pekan ini.
"The Fed diperkirakan tetap menahan suku bunga, karena masih mengkaji dampak kebijakan tarif terhadap inflasi. Di sisi lain, Trump terus mendesak bank sentral untuk memangkas suku bunga, memicu ketegangan tersendiri," jelas Ibrahim.
Di tengah kondisi itu, rupiah ditutup melemah 17 poin atau 0,11% ke level Rp16.455 per dolar AS. Namun menariknya, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia justru menunjukkan penguatan rupiah ke Rp16.421 dari sebelumnya Rp16.493 per dolar AS.(***)
Editor : Alfian Yusni