Tak heran, konflik yang tengah terjadi antara India-Pakistan saat ini dikhawatirkan akan berdampak pada ekspor NTB.
Berdasarkan data BPS NTB sebelumnya, ekspor ke India tercatat dilakukan pelaku usaha NTB pada Februari lalu sebesar USD 31.006.
Jumlah ini hanya 0,43 persen dari total ekspor NTB bulan tersebut yang dominan dikuasai pengiriman ke Amerika Serikat sebesar USD 3,9 juta.
Kemudian disusul Hongkong sebesar USD 1,4 juta atau 18,72 persen, Vietnam USD 724.856 atau 9,96 persen, Jepang USD 419.981 atau sekitar 5,77 persen.
Lalu Tiongkok USD 369.459 atau sekitar 5,08 persen, Chili USD 285.136 atau 3,92 persen, Puerto Rico USD 140.790 atau 1,93 persen, India USD 31.006 atau 0,43 persen, dan Korea Selatan USD 18.396 atau 0,25 persen.
Pada Maret 2025, ekspor NTB dengan tujuan India tidak ada. Negara tujuan yang tercatat di antaranya, Amerika Serikat, Puerto Rico, Kanada, Malaysia, Singapura, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang dan Vietnam.
“Ekspor NTB pada April 2025 senilai USD 6,28 juta dengan komoditas ikan dan udang senilai USD 2,23 juta atau 35,55 persen dari total ekspor. Dikirimkan ke Amerika Serikat, Puerto Rico, Kanada, melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Tanjung Periuk, Bandara Ngurah Rai, dan lainnya,” terang Kepala BPS NTB Wahyudin.
Komoditas ekspor NTB ke India selama ini beragam. Seperti barang tambang, perhiasan dan permata, ikan dan udang, garam belerang dan kapur, biji-bijian berminyak, serta daging dan ikan olahan.
Di antara komoditas tersebut, nilai paling besar adalah barang tambang. Sedangkan komoditas yang lain hanya sebagian kecil dan nilainya relatif kecil.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) NTB menilai konflik India-Pakistan tidak begitu berpengaruh terhadap ekspor NTB. Hal itu lantaran besaran ekspor ke India tidak sebesar ekspor ke Amerika Serikat, Tiongkok, dan Eropa.
“Kalau Indonesia biasanya Eropa, Amerika, dan Cina,” ujar Kepala BI NTB Berry Arifsyah Harahap.
“Memang ada beberapa produk kita ekspor ke India seperti ikan dan udang, tapi tidak besar. Kita lebih banyak ekspor ke Eropa, Amerika dan Cina, kalau India ada tapi tidak terlalu banyak,” pungkasnya.
Konflik India-Pakistan di Tahun 2025
Dikutip dari Al Jazeera, situasi di perbatasan antara India dan Pakistan memanas secara signifikan pada tahun ini, yang ditandai dengan serangkaian serangan dan tindakan balasan, yang meningkatkan kekhawatiran akan terjadinya konflik yang lebih luas antara kedua negara bersenjata nuklir ini.
Eskalasi India-Pakistan ini yang terbaru dipicu oleh serangan teroris mematikan pada 22 April 2025 di Pahalgam, wilayah Kashmir yang dikelola India, yang menewaskan sedikitnya 26 wisatawan, sebagian besar Hindu.
India menuduh Pakistan mendukung kelompok militan yang bertanggung jawab atas serangan tersebut, tuduhan yang dibantah keras oleh Islamabad.
Pada 7 Mei 2025, India melancarkan serangan rudal ke beberapa lokasi di wilayah Pakistan dan Kashmir yang dikelola Pakistan.
India menyebut operasi ini sebagai "Operasi Sindoor" dan mengklaim targetnya adalah infrastruktur teroris.
Pakistan mengecam serangan India dan menyatakan telah menembak jatuh beberapa pesawat tempur India sebagai balasan. Pakistan juga menuduh India menyerang fasilitas sipil dan militer.
Kedua belah pihak melaporkan terjadinya baku tembak hebat dan serangan artileri di sepanjang Garis Kontrol (LoC), perbatasan de facto antara kedua negara di Kashmir. India juga menuduh Pakistan meluncurkan ratusan drone ke wilayahnya.
India mengambil langkah diplomatik dengan mengusir diplomat Pakistan, menarik staf diplomatiknya sendiri, menangguhkan layanan visa untuk warga Pakistan, dan menutup perbatasan.
India juga mengumumkan penangguhan sementara Perjanjian Air Indus yang krusial. Pakistan merespons dengan tindakan serupa, termasuk memberlakukan pembatasan perdagangan dan menutup wilayah udara serta perbatasan.
Hingga 10 Mei 2025, ketegangan antara India dan Pakistan masih sangat tinggi. Kedua negara terus saling melontarkan tuduhan dan membantah klaim satu sama lain. Laporan-laporan menunjukkan terjadinya serangan drone dan baku tembak di berbagai lokasi perbatasan.
Konflik yang meningkat ini menimbulkan kekhawatiran besar di tingkat internasional, mengingat status kedua negara sebagai kekuatan nuklir. (fer/r6)
Editor : Kimda Farida