Seperti pembudi daya Porang di Dusun Buani, Desa Bentek yang bisa memasok hingga puluhan ton per bulannya.
Salah satu pengepul Porang di Dusun Buani, Edi Susila Darma mengatakan, harga porang terbilang fluktuatif.
Di pasar saat ini harga Porang di kisaran Rp 8.600-8.700 per kilogram.
Sedikit menurun dari sebelumnya Rp 8.900 per kilogram.
Meski begitu, harga tersebut dikatakannya masih relatif bagus.
“Ini kita pasok ke pengepul besar, H Zul namanya, ada gudangnya di Papak,” ujar Edi.
Porang yang dijual ke gudang milik H Zul tersebut, kata Edi dikirimkan ke Pulau Jawa, tepatnya di Madiun.
Porang tersebut nantinya akan diolah di sana.
Saat ini, permintaan terhadap Porang sedang tinggi. Bahkan gudang pengepul sudah overload alias tidak bisa menampung lagi.
Sayangnya, di tengah permintaan tinggi, harganya justru turun meski tidak begitu signifikan.
Sebagai petani sekaligus pengepul kecil, dia bisa belanja porang hingga 40 ton lebih.
Per hari bisa mengumpulkan 2-4 ton tergantung petaninya. Jika dikalikan dengan harga Rp 8.700 per kilogram, Edi mengeluarkan uang sekitar Rp 350 juta.
“Kita mengambil keuntungan Rp 200 per kilogramnya,” katanya.
Edi melanjutkan, dirinya tidak mengolah porang untuk bisa menaikkan nilai tambahnya.
Hal itu dikarenakan dia tidak tahu cara mengelolanya.
Selain itu membutuhkan mesin oven dan alat pembuatan chips.
“Kalau ada harga bagus memang butuh kami alat itu, dan kalau ada pasar kripiknya juga. Petani porang di Gangga cuma di sini, Dusun Buani,” tandasnya. (fer/r6)
Editor : Kimda Farida