LombokPost - Saham PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) jadi primadona baru di lantai bursa. Tak hanya harganya yang sedang “diskon besar”, tapi juga menawarkan imbal hasil dividen yang menggiurkan.
Riset terbaru Ajaib Sekuritas menyebut TUGU sebagai salah satu emiten asuransi umum paling prospektif di tahun ini.
Analis Ajaib Sekuritas, Rizal Rafly, menyebut TUGU sebagai perusahaan asuransi umum publik terbesar di Indonesia jika dilihat dari perolehan premi, aset, hingga modal.
Meski dimiliki oleh PT Pertamina (Persero), ketergantungan TUGU terhadap induknya justru tergolong minim.
“Daya saing TUGU sangat kuat, baik di segmen BUMN maupun non-BUMN,” ungkap Rizal dalam laporan risetnya.
Yang bikin makin menarik, saham TUGU saat ini diperdagangkan di bawah 0,4x PBV (Price to Book Value), jauh di bawah rata-rata sektor asuransi yang umumnya berada di atas 1x PBV. Artinya, saham ini masih dihargai murah alias undervalued.
Dari sisi return, TUGU rutin membagikan dividen sebesar 40% dari laba. Untuk tahun buku 2024, dividen yang dibagikan sebesar Rp 78,8 per saham dengan yield 7,6% saat cum date (8 Mei 2025), ketika harga saham ditutup di Rp1.040. Namun sehari setelahnya, harga saham terkoreksi 7,7%, penurunan yang setara dengan yield dividen yang dibagikan.
Meski sempat turun, harga saham TUGU mulai menunjukkan tanda rebound. Pada sesi I perdagangan Rabu (14/5), saham TUGU naik 1,56% ke Rp975.
Secara fundamental, pertumbuhan premi TUGU diprediksi akan melaju 8–11% dalam jangka menengah, melampaui rata-rata industri.
Dengan manajemen risiko yang kuat, rasio kerugian (loss ratio) diproyeksikan bisa ditekan di bawah 60%, yang berarti margin underwriting makin sehat.
“Kami prediksi underwriting TUGU bisa tumbuh rata-rata 14% per tahun jika rasio kerugian bisa dijaga,” ujar Rizal.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, Ajaib Sekuritas merekomendasikan beli saham TUGU dengan target harga Rp1.800 per saham untuk 2025, atau setara dengan PBV 0,6x, masih sangat menarik.
Saham TUGU saat ini seperti "permata tersembunyi" di sektor asuransi. Harganya murah, dividennya tinggi, dan prospeknya cemerlang. Tak heran kalau banyak investor mulai kepincut. (***)
Editor : Alfian Yusni