Bulog NTB diminta untuk menambah kuota serapan jagung petani oleh Dinas Ketahanan Pangan NTB, sebagai salah satu alternatif untuk persoalan harga jagung di tingkat petani.
Bulog NTB diminta untuk menambah kuota serapan jagung petani dari sebelumnya 78 ribu ton menjadi 250 ribu ton.
Permintaan agar menambah kuota serapan jagung tersebut merupakan langkah koordinasi Dinas Ketahanan Pangan NTB dengan Bulog NTB.
Hal tersebut untuk menjaga stabilisai harga yang menjadi perhatian dan keresahan petani di NTB.
Selain itu, juga mencegah kerugian yang dialami petani akibat harga yang anjlok,serta menjaga kelangsungan produksi jagung sebagai komoditas andalan NTB.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB NTB Aidy Furqan menekankan penting menjaga dan memperkuat tiga pilar utama ketahanan pangan.
Di antaranya, yaitu ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan.
Ketiga pilar ini menjadi fondasi utama dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
“Terutama di wilayah pedesaan yang menjadi ujung tombak produksi pangan daerah,” tandasnya.
Sebelumnya, Pimwil Bulog NTB Sri Muniarti mengatakan, Bulog NTB ditargetkan menyerap 78 ribu ton jagung dan proses penyerapan ini akan berlangsung hingga akhir tahun nanti.
“Ini kan masih baru panen, serapannya akan terus bertambah,” ujarnya.
Dalam penyerapan jagung pipilan kering ini, Bulog NTB berkoordinasi dengan sejumlah stakeholder.
Di antaranya, Pemprov NTB dan Polda NTB. Koordinasi dengan Pemprov NTB, kata Sri, terkait gudang penyimpanan.
“Sedangkan dengan Polda, kita ketahui bahwa Polri mendapatkan tugas pendampingan maupun pengawalan selama ini berjalan,” jelasnya.
Beberapa waktu lalu, Polri juga melakukan program taman jagung serentak.
Di NTB, selain jagung masyarakat umum, Bulog NTB juga bakal menyerap hasil panen jagung binaan Polda hingga Polres di tiap kabupaten/kota.
“Harga pembeliannya 5.500 rupiah, jagung ini Bulog Hanya menyerap sesuai dengan standar jagung pemerintah, dan kadar air simpannya 14 persen,” jelasnya.
Sri melanjutkan, pihaknya juga telah membentuk Satgas atau tim serap jagung di setiap cabang Bulog di NTB.
Tujuannya, untuk memudahkan Bulog mendapatkan informasi terkait petani yang ingin menjual jagungnya.
“Untuk jagung ini serapannya ada dua, ada yang di jemput dan ada yang bawa langsung petaninya ke gudang Bulog,” pungkasnya. ***
Editor : Kimda Farida