Sejumlah prospek positif yang dapat memicu pemulihan ekonomi NTB ini di antaranya, hilirasasi smelter, perdagangan dalam negeri, pertanian, pariwisata, konsumsi rumah tangga, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dimulai dari hilirisasi smelter, produksi katoda tembaga mulai dilakukan di smelter sebagai hasil hilirisasi berpotensi meningkatkan ekspor produk olahan.
Efek dari hilirisasi tembaga diharapkan memunculkan industri hilir seperti industry kabel, industri pupuk dari hasil sampingan produksi tembaga yang tentunya akan memacu perekonomian daerah.
Perdagangan dalam negeri yaitu asam sulfat yang dikirim dari NTB pada Maret 2025 sebesar 37.602 ton ke Gresik, yang merupakan produk sampingan yang bernilai ekonomi (misalnya untuk pupuk atau industri kimia) dari proses pengolahan bijih logam di smelter.
Program Makan bergizi Gratis (MBG) menciptakan permintaan besar terhadap produk pangan lokal, memacu perputaran dana pada sektor transportasi terkait ditribusi MBG.
“Efek multiplier dari MBG akan meningkatkan uang beredar di Masyarakat, uang belanja konsumsi Masyarakat yang awalnya dialokasikan untuk makan dapat dialihkan menjadi konsumsi lainnya,” ujar Kepala BPS NTB Wahyudin, Rabu (28/5).
Pertumbuhan ekonomi sektor pertanian sebesar 10,28 persen pada triwulan I 2025 dipicu peningkatan produksi dan jagung di NTB.
Pertumbuhan sektor pertanian ini merupakan pertumbuhan tertinggi selama 4 tahun terakhir dan telah menyerap tenaga kerja di NTB sebesar persen 32,50 persen (Februari tahun 2025).
Peningkatan produksi padi dan jagung sebagai sinyal kesiapan sektor pangan dengan total potensi produksi padi triwulan I-2025 diperkirakan mencapai 395,65 ribu ton GKG, atau mengalami peningkatan sebesar 141,09 ribu ton GKG (55,43 persen) dibandingkan produksi padi pada triwulan I-2024 yang sebesar 254,56 ribu ton GKG.
“Selain padi, komoditas jagung juga mengalami pertumbuhan produksi yang signifikan, salah satunya disebabkan karena pergeseran musim panen, di mana tahun ini panen sudah mulai pada bulan Maret,” sambungnya.
Prospek positif berikutnya adalah wisatawan mancanegara meningkat 25,30 persen, yang menunjukkan potensi pasar pariwisata global pulih.
Jumlah tamu menginap di hotel meningkat 17 ribu orang dibandingkan triwulan I-2024 atau meningkat dari 409 ribu orang pada triwulan I-2024 menjadi 426 ribu orang pada triwulan I-2025 (meningkat 4,08 persen).
Peningkatan jumlah tamu ini hanya terjadi pada tamu yang berasal dari luar negeri yang meningkat hingga 25,30 persen.
“Sementara itu, tamu yang berasal dari dalam negeri turun 4,24 persen,” bebernya.
Terakhir, konsumsi masyarakat NTB tumbuh 4,18 persen, hal ini menopang pertumbuhan perekonomian NTB dan juga menggambarkan daya beli Masyarakat NTB tumbuh positif.
Lebih lanjut dijelaskan, pertumbuhan ekonomi NTB mengalami kontraksi pada triwulan I-2025 sebesar -1,47 persen (yoy).
Penyebab utamanya disebabkan oleh penurunan tajam pada sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami penurunan sebesar (-30,14 persen).
Sektor pertambangan dan penggalian merupakan tulang punggung utama perekonomian provinsi setelah sector pertanian dengan share sebesar 16,00 persen.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi NTB Jika dilihat tanpa tambang mengalami pertumbuhan secara y on y sebesar 5,57 persen pada triwulan I 2025.
Lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2024 sebesar 3,74 persen dan juga mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2024 yang mencapai 3,01 persen.
“Hampir semua sektor pada triwulan I 2025 mengalami pertumbuhan positif kecuali sektor pertambangan dan penggalian serta sektor konstruksi, bahkan sektor pertanian sebagai pilar utama perekonomian NTB dengan share sebesar 23,24 persen mengalami pertumbuhan sebesar 10,28 persen,” tandasnya.
Editor : Kimda Farida