LombokPost–Seorang pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Desa Jerowaru, Lombok Timur, menunjukkan kreativitas tak ada batasnya.
Dia dapat mengubah limbah menjadi ladang penghasilan.
Namanya Nanik Rahayu, perempuan tangguh ini sukses mengolah kulit pisang menjadi camilan gurih.
Camilan tersebut bernama kulpis, singkatan dari kerupuk kulit pisang, yang kini mulai diminati pasar.
Ide brilian Nanik bermula dari keprihatinan melihat banyaknya kulit pisang segar yang terbuang sia-sia setiap harinya.
"Setiap hari saya melihat kulit pisang hanya dibuang begitu saja, padahal itu bahan yang masih bisa diolah," tutur Nanik.
Bermodalkan tekad dan rasa penasaran, ia mulai mencari informasi mengenai pengolahan kulit pisang melalui internet.
Melalui penjelajahan di dunia maya, Nanik mengumpulkan ilmu tentang cara mengolah kulit pisang menjadi makanan.
Langkah awalnya tidak semulus yang dibayangkan.
Beberapa kali percobaan pertamanya menghasilkan kerupuk yang kurang sedap, bahkan tidak bisa dimakan.
"Awalnya saya hampir menyerah karena gagal terus. Tapi rasa penasaran membuat saya terus mencoba sampai akhirnya menemukan adonan yang pas," jelas Nanik.
Setelah perjuangan panjang, lahirlah kulpis dengan rasa yang lezat dan tekstur renyah.
Awalnya, Nanik hanya memproduksi rasa original.
Kini, ia telah mengembangkan variasi rasa seperti balado dan cokelat karamel, yang sangat disukai berbagai kalangan, terutama anak-anak dan remaja.
Bahan baku utama kulpis didapatkan dari para pedagang gorengan di sekitar tempat tinggalnya.
"Hampir semua jenis kulit pisang bisa diolah menjadi kerupuk. Tapi saya lebih sering menggunakan kulit pisang kepok karena teksturnya lebih bagus," jelas Nanik.
Meski pun bisnis ini baru berjalan enam bulan, produk kerupuk kulit pisang miliknya mulai mendapatkan perhatian.
Dengan harga Rp 10 ribu per bungkus, kulpis mulai diminati konsumen dari lingkungan terdekat.
"Untuk saat ini saya masih fokus meningkatkan kualitas produk. Selain itu, saya sedang mengurus legalitas dan sertifikasi halal agar produk ini bisa masuk pasar yang lebih luas," tambahnya.
Dibantu bimbingan dari Dinas Koperasi dan UMKM Lombok Timur, Nanik optimistis kulpis bisa bersaing di pasar modern.
Targetnya, produk ini dapat dijual di ritel-ritel besar di seluruh NTB.
"Saya percaya produk ini unik dan punya daya saing tinggi. Selain enak, kerupuk ini juga menjadi solusi ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah kulit pisang," terangnya.
Saat ini, produksi kulpis masih dilakukan secara mandiri di rumahnya.
Meski demikian, permintaan mulai meningkat dan setiap hari, Nanik mampu menjual antara 9 hingga 15 bungkus.
"Alhamdulillah, pesanan selalu ada," tandasnya.
Editor : Akbar Sirinawa