Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BI Sebut Perang Iran-Israel Belum Pengaruhi Ekspor NTB

Geumerie Ayu • Kamis, 26 Juni 2025 | 15:28 WIB

Kepala BI NTB Berry Arifsyah Harahap
Kepala BI NTB Berry Arifsyah Harahap
LombokPost - Perang Iran dan Israel oleh banyak kalangan dikhawatirkan memukul sektor ekonomi.

Sejumlah indikator ekonomi global mulai menunjukkan reaksi, misalnya pada pergerakan harga minyak mentah dunia.

Namun kabar baiknya, dampak nyata perang tersebut terhadap ekspor NTB belum terlihat signifikan.

Termasuk juga terhadap aktivitas ekonomi di NTB.

"Yang paling terlihat mungkin dari sisi harga minyak," ujar Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB Berry Arifsyah Harahap, Selasa (24/6)

Salah satu dampak paling awal yang terlihat dari konflik geopolitik di Timur Tengah adalah kenaikan harga minyak mentah global, khususnya jenis West Texas Intermediate (WTI). 

Berry mengungkapkan, harga WTI semula berada di bawah USD 70 per barel, kini mulai naik mendekati USD 76 per barel.

"Sebenarnya masih di kisaran harga 70-an dolar. Kalau sudah tembus di atas itu, baru kita mulai khawatir karena dampaknya bisa berlapis, terutama ke subsidi energi dan harga barang-barang lainnya," jelasnya. 

Kenaikan harga minyak mentah berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah, terutama di sektor bahan bakar dan logistik.

Selain itu, harga minyak yang tinggi juga dapat menular ke harga kebutuhan pokok lainnya melalui mekanisme cost push inflation.

“Ketika biaya produksi naik akibat harga energi yang melonjak,” sambungnya.

Meski demikian, Bank Indonesia NTB menilai situasi saat ini masih dalam batas toleransi.

Baca Juga: 4 Film Horor Indonesia dengan Alur Cerita Menarik tapi Sepi Peminat, Nomor 2 Karya Sutradara Terkenal Joko Anwar

Kewaspadaan tetap dijaga, namun belum ada sinyal untuk perubahan kebijakan moneter atau fiskal secara reaktif.

Selain harga minyak mentah global, indikator penting lainnya yang turut dipantau adalah Baltic Dry Index (BDI).

Indeks ini merupakan salah satu acuan utama untuk mengukur biaya pengiriman logistik global, terutama untuk komoditas curah kering. 

"Saya juga melihat Baltic Dry Index. Itu bisa menjadi ukuran biaya shipping atau logistik secara global. Hingga saat ini, belum ada pergerakan signifikan," kata Berry.

Stabilnya BDI menunjukkan jalur perdagangan internasional masih berjalan normal.

Meski pun ada kekhawatiran bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah dapat mengganggu rute pelayaran utama. 

Seperti Selat Hormuz, yang dikenal sebagai chokepoint strategis dunia untuk minyak.

Namun menurut Berry, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah bukan hal baru.

"Reda memanas, memang sudah lama terjadi. Tapi sekarang ada jalur-jalur baru untuk menghindari daerah konflik, walau pun konsekuensinya adalah biaya logistik jadi lebih mahal," ujarnya.

Seperti informasi dari mitra BI, kapal pengangkut barang dari AS yang biasanya melewati Selat Hormuz, kini harus mengambil rute alternatif.

Perubahan jalur ini menambah waktu perjalanan hingga 34 hari, sehingga berkontribusi pada kenaikan biaya transportasi.

Berry juga membandingkan situasi saat ini dengan konflik antara Rusia dan Ukraina yang juga masih berlangsung.

Baca Juga: 3 Film Indonesia yang Penuh Adegan Seru dan Menegangkan, yang Terakhir Bikin Kepikiran

Konflik tersebut sempat mengguncang pasar energi dan pangan dunia secara signifikan.

Terutama pada tahun-tahun awal ketika pasokan gandum dan gas alam terganggu.

"Sama seperti kejadian Ukraina dan Rusia. Kita tahu dampaknya ke harga pangan dan energi dunia cukup besar. Tapi untuk kasus Iran-Israel saat ini, kita masih lihat bagaimana perkembangannya," tutur Berry.

Meski situasi geopolitik menjadi salah satu faktor eksternal yang diawasi, Berry menekankan fokus utama BI saat ini masih tertuju pada tarif ekspor, daya beli masyarakat, dan pengendalian inflasi lokal.

"Untuk saat ini, kami di BI masih lebih fokus pada asesmen terhadap tarif ke AS dan perkembangan inflasi domestik. Geopolitik belum terlalu termanifestasi secara langsung," tegasnya.

Hal ini menjadi sinyal bahwa BI tidak gegabah dalam mengambil langkah responsif terhadap isu global.

Apalagi yang belum menunjukkan pengaruh langsung terhadap struktur ekonomi daerah.

Ekspor komoditas utama NTB seperti hasil pertanian, perikanan, dan sektor pariwisata belum menunjukkan gangguan yang berarti.

Namun demikian, BI NTB tetap mengingatkan pentingnya kewaspadaan. 

Terutama dari sektor transportasi dan distribusi logistik antarpulau, yang sangat rentan terhadap fluktuasi harga BBM.

 “Kita lihat lah, mudah-mudahan tidak terlalu panjang. Dunia saat ini sudah banyak krisis, jadi stabilitas sangat penting," tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Disdag NTB Jamaludin Malady mengatakan, NTB saat ini tengah mengalihkan sementara fokus ekspor ke pasar-pasar Asia selain Timur Tengah yang bergejolak.

Perubahan haluan strategi ekspor ini untuk menjaga stabilitas perdagangan luar negeri di tengah penurunan permintaan global. 

Baca Juga: 3 Film Indonesia dengan Alur Ringan dan Menghangatkan Hati, Cocok Ditonton bareng Keluarga di Akhir Pekan

“Sekarang kita belum bisa terlalu berharap dari Timur Tengah dan Eropa," ujarnya.***

Editor : Kimda Farida
#dampak #Israel #BI #iran #ekspor #perang