LombokPost – Di tengah bayang-bayang kontraksi ekonomi global, sistem keuangan Nusa Tenggara Barat (NTB) justru menunjukkan ketahanan yang bagus.
Pertumbuhan kreditnya yang positif dan adopsi pembayaran digital yang kian masif.
Data Bank Indonesia (BI) NTB menunjukkan optimisme terhadap prospek pemulihan ekonomi daerah.
Pada Triwulan II 2025, pertumbuhan kredit berdasarkan lokasi proyek di NTB tercatat sebesar 16,6 persen (yoy), meningkat signifikan dari triwulan sebelumnya.
Kredit konsumsi dan investasi menjadi mesin pendorong utama pertumbuhan ini.
Hal tersebut didukung oleh rasio kredit bermasalah (NPL) yang tetap terjaga di level aman 1,72 persen. Jauh di bawah ambang batas risiko sistemik.
“Pertumbuhan kredit yang positif ini menandakan bahwa sektor keuangan tetap percaya diri terhadap prospek pemulihan ekonomi,” jelas Kepala KPwBI NTB Berry Arifsyah Harahap.
Tidak hanya itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) oleh perbankan juga mencatat pertumbuhan sebesar 3,14persen (yoy).
Kontribusi utamanya dari DPK sektor swasta dan rumah tangga.
“Total aset perbankan di NTB hingga Mei 2025 bahkan telah mencapai Rp 87,37 triliun, menunjukkan fundamental sektor perbankan daerah yang kokoh,” sambungnya.
Transformasi digital di NTB juga menunjukkan kemajuan pesat.
Hingga Mei 2025, jumlah pengguna QRIS di NTB telah mencapai 490 ribu dengan 375 ribu merchant aktif, dan mencatatkan volume hingga 3,07 juta transaksi.
Penggunaan kartu APMK dan uang elektronik juga melonjak, masing-masing sebesar 7,45 persen dan 22,86 persen (yoy).
“Kami terus mendorong adopsi transaksi digital yang inklusif dan aman. QRIS menjadi tulang punggung ekonomi digital di daerah,” ujar Berry.
Secara nasional, BI mempertahankan BI-Rate di level 5,50 persen.
Hal itu untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mengendalikan inflasi, sembari tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Intervensi pasar valas dan pembelian SBN juga terus dilakukan untuk menjaga likuiditas,” katanya.
Meski adanya sedikit pergeseran alokasi pendapatan pasca Ramadan dan Idul Fitri yang memengaruhi tabungan dan cicilan, daya beli rumah tangga di NTB relatif baik.
Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang masih di atas level 100.
BI NTB tetap optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dalam jangka menengah.
Fokusnya pada penguatan sektor riil non-tambang, perluasan inklusi keuangan, dan pengendalian inflasi.
“Kondisi ekonomi global masih berisiko, tapi dengan koordinasi erat antarlembaga dan penguatan sektor lokal, kita bisa menjaga momentum pemulihan,” pungkas Berry.
Editor : Jelo Sangaji