LombokPost – Dari satu gerobak sepeda listrik sederhana, di balik aroma robusta dan suara blender kopi, tersimpan kisah seorang pria bernama Damian Firdaus.
Pada 2024 lalu, Damian masih sibuk menangani event BUMN di Jakarta.
Di sela waktu itu, ia mengamati tren baru, bisnis kopi gerobakan yang ramai di ibu kota.
Saat kembali ke kampung halamannya di Lombok, ia menyadari bahwa konsep ini belum menjamah Mataram.
Di situlah intuisi bisnisnya berbicara.
Pada 20 September 2024, satu unit gerobak sepeda listrik beroperasi untuk pertama kalinya di Jalan Pemuda, depan Unram.
Tanpa barista profesional dan strategi marketing yang muluk-muluk, Damian turun langsung, menyeduh kopi, mencatat penjualan, dan mengangkat termos air panas.
Hari pertama, ia membawa 100 cup dan hanya berhasil menjual 25 saja.
Tapi itu bukan kegagalan, baginya itu eksperimen.
Lewat Instagram dan bantuan teman-teman terdekat, gelombang penikmat kopi mulai berdatangan.
Dalam sepekan usahanya berkembang. Gerobak Kopling menjual 150 cup per hari, dan di akhir bulan melonjak hingga 250 cup.
Momen klimaksnya adalah Car Free Day, 250 cup ludes hanya dalam empat jam.
Alih-alih membuka kedai dan menunggu pelanggan datang, Kopling menerapkan strategi jemput bola.
Dalam satu minggu, gerobak Kopling berjualan di sepuluh titik mangkal.
Lima titik tetap, lima titik situasional. Lokasinya strategis, di dekat kampus hingga pinggiran jalan raya ramai.
Selain soal gaya hidup, banyak juga yang membeli untuk bertahan dari serangan ngantuk siang hari.
“Ngopi itu bukan lifestyle doang. Ini tentang energi, fokus, dan produktivitas,” ujar Damian.
Tujuh bulan setelah gerobak pertama meluncur, Kopling menjelma menjadi entitas bisnis yang kokoh.
Melalui skema kemitraan senilai Rp 50–55 juta, para mitra mendapatkan paket lengkap.
Seperti gerobak, alat, bahan baku awal, dan dukungan operasional penuh.
Mitra hanya perlu menyiapkan modal.
Tim Kopling yang akan mengelola penjualan, merekrut rider, dan melaporkan omzet harian.
Dampaknya luar biasa, dalam waktu singkat, Kopling hadir di seluruh kabupaten/kota di NTB.
Bahkan merambah Denpasar dan Malang, serta bersiap menjelajah lebih dalam ke Jawa dan Bali.
Rider Kopling mayoritas adalah mahasiswa. Mereka menerima gaji pokok sekitar Rp 700–800 ribu.
Namun hal yang membuat mereka betah adalah komisi per cup, yakni Rp 500–800.
Dengan target penjualan realistis, para rider bisa membawa pulang Rp 3–4 juta per bulan.
“Kami nggak menjanjikan gaji tinggi, tapi kami sediakan sistem yang fair. Kalau kerja keras, hasilnya kelihatan,” kata Damian.
Kopling tahu, dalam dunia F&B yang mudah viral, mempertahankan identitas adalah segalanya.
Meski banyak kopi gerobakan bermunculan meniru modelnya, Kopling percaya kualitas tetap jadi pembeda.
Dari biji pilihan, SOP penyeduhan, hingga packaging yang rapi, semuanya dijaga ketat. (fer/r6)