Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BPS NTB Warning TPID Soal Potensi Lonjakan Inflasi

Geumerie Ayu • Minggu, 3 Agustus 2025 | 19:26 WIB

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
LombokPost - Badan Pusat Statistik (BPS) NTB merilis data inflasi terbaru yang menunjukkan sinyal peringatan bagi pemerintah daerah.

Meski inflasi bulanan (month-to-month) NTB berada di bawah nasional, tapi inflasi tahunan (year-on-year) justru jauh di atas nasional.

Menurut Kepala BPS NTB Wahyudin, inflasi bulanan NTB (Juli 2025) 0,17 persen.

Persentase ini lebih rendah dari nasional yang mencapai 0,30 persen.

Namun, ia menekankan data yang perlu diwaspadai adalah inflasi tahunan yang kini menyentuh angka 3,05 persen.

Jauh di atas target nasional sebesar 2,37 persen. Selain itu juga melampaui batas target inflasi daerah yang ditetapkan pemerintah, yakni 2,5 ± 1 persen.

"Ini sudah menjadi warning buat kita semua, terutama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID)," ujar Wahyudin.

"Perjalanan kita masih cukup panjang, sekitar lima bulan lagi menuju akhir tahun. Jika setiap bulan inflasi naik 0,1 poin saja, di akhir tahun kita bisa melampaui batas 3,5 persen," jelasnya.

Bawang merah yang dijual di Pasar Induk Mandalika, Mataram, yang merupakan salah satu penyumbang andil inflasi terbesar di NTB.
Bawang merah yang dijual di Pasar Induk Mandalika, Mataram, yang merupakan salah satu penyumbang andil inflasi terbesar di NTB.

Penyumbang inflasi terbesar secara bulanan berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Andil inflasinya sebesar 0,09 persen dari total inflasi 0,17 persen.

Selain itu kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya juga memberi andil inflasi sebesar 0,02 persen.

Meski pun memiliki tingkat inflasi yang tinggi sebesar 1,11 persen.

Di sisi lainnya, kelompok pakaian dan alas kaki justru mengalami deflasi 0,07 persen.

Kelompok ini menjadi satu-satunya yang mengalami penurunan harga.

Secara komoditas, beras kembali menjadi komoditas penyumbang inflasi tertinggi, dengan andil 0,07 persen.

Komoditas lain yang juga berperan besar adalah bawang merah  0,06 persen, cabai merah, 0,02 persen, dan tomat 0,02 persen.

“Menariknya, ikan tongkol juga muncul sebagai lima komoditas teratas penyumbang inflasi secara keseluruhan di NTB, padahal pada bulan sebelumnya hanya terdeteksi di Sumbawa,” bebernya.

Kenaikan harga komoditas-komoditas ini menjadi perhatian khusus karena sebagian besar merupakan hasil pertanian lokal NTB.

Wahyudin menyoroti banyaknya komoditas penyumbang inflasi merupakan produk yang dihasilkan di daerah, khususnya di Pulau Sumbawa.

Seperti bawang merah, cabai merah, dan tomat.

"Bawang dari Lape hingga Empang mulai berproduksi, dan sebagian dibawa ke luar daerah. Ini perlu kita kendalikan," tegasnya.

Sebaliknya, komoditas mengalami deflasi di antaranya, cumi-cumi, kacang panjang, udang basah, ikan kembung, dan layanan angkutan laut.

Namun, penurunan ini belum cukup untuk mengimbangi kenaikan harga pada komoditas lainnya.

“Kepada semua, terutama TPID, bahwa sekarang ini kita sudah dalam kondisi yang harus kita benar-benar mengkondisikan supaya kita bisa mengendalikan inflasi jangan sampai di atas 3,5 persen,” pungkasnya.

 

Editor : Siti Aeny Maryam
#lonjakan #Warning #tpid #Inflasi #BPS NTB