Di sana tersimpan jejak ketangguhan dan kreativitas masyarakat yang selama ini tak banyak terdengar.
Dari Tetebatu hingga Montong Baan, bambu bukan sekadar tanaman.
Itu simbol peluang ekonomi yang tumbuh di tengah kearifan lokal dan semangat pemberdayaan.
Salah satu pemuda yang konsisten menapaki jalan ini adalah Azkan Saidi. Dia petani dan pengerajin asal Desa Tetebatu.
Bagi Azkan, bambu bukan hanya bahan baku kerajinan, tapi juga identitas budaya dan potensi desa wisata.
“Kami punya keinginan kuat agar bambu bisa menjadi souvenir khas desa. Tapi ini butuh dukungan serius, agar kerajinan bambu bukan cuma jadi cerita lokal, tapi juga produk unggulan,” ujarnya.
Bambu semakin lekat dengan wajah desa wisata.
Terutama dengan tumbuhnya bangunan homestay dan artshop, mulai mengadaptasi bahan alami sebagai ciri khas.
Potensi ini turut diamini Khotibul Umam dari Lombok Research Center (LRC).
Dia melihat desa-desa di Kecamatan Sikur memiliki sumber daya bambu dan SDM terampil yang melimpah.
Namun menurut Umam, potensi besar itu belum sepenuhnya dimaksimalkan.
“Bambu masih banyak dijual dalam bentuk mentah. Padahal, jika sektor pariwisata, pemerintah desa, dan warga bisa bersinergi, produk bambu bisa punya nilai tambah jauh lebih besar,” jelasnya.
Di tengah keterbatasan infrastruktur dan akses pasar, perajin di desa-desa Lombok Timur tampil sebagai ujung tombak pelestarian.
Terutama para perajin perempuan yang juga sekaligus inovator kerajinan bambu.
Seperti di Desa Gelora ada Husnul Hayati yang memproduksi terai bambu dan menjadi pemasok bagi pengerajin lain.
Bermodalkan mesin pembelah dan peraut bambu, Hayati mampu memenuhi pesanan walau harus berjibaku dengan cuaca, ketersediaan bahan, dan minimnya promosi.
Di Dusun Mentaum Desa Montong Baan ada Siti Aminah.
Dia mantan tenaga kerja wanita yang kini memimpin kelompok pengerajin perempuan pembuat anyaman pagar bambu.
Meski lokasi dusunnya memang jauh dari jalan utama, namun Aminah tak menyerah.
Sejak 2019, ia mengandalkan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar. Meski baru mampu melayani pengiriman hingga ke Pulau Sumbawa, minat dari luar NTB terus berdatangan.
“Dari motif anyaman tradisional sampai motif batik kreasi sendiri, semua kami buat sendiri. Kualitasnya bisa bersaing,” kata Aminah.
Bagi Aminah, bambu bukan hanya bahan kerajinan.
Ini adalah jalan pulang dari masa lalu yang berat, sekaligus jalan masa depan yang bisa diwariskan kepada anak dan cucu.
“Kalau ada pelatihan, bantuan alat, dan permodalan, kami bisa lebih berkembang,” harapnya.
Melihat geliat tersebut, LRC kini menginisiasi program pemberdayaan dan pembinaan UMKM berbasis bambu sebagai proyek percontohan di Kecamatan Sikur.
Melalui asesmen di 14 desa, mereka ingin memastikan pengembangan kerajinan bambu benar-benar lahir dari inisiatif masyarakat.
Koordinator lapangan Hari Bahagia menegaskan, pendekatan yang digunakan adalah partisipatif.
“Kita tidak ingin ini hanya jadi intervensi luar. Justru warga yang harus memimpin,” ujarnya.
Ditambahkannya, program ini tak hanya berorientasi ekonomi, tapi juga berpijak pada prinsip keberlanjutan.
Sejalan dengan tujuan SDGs, bambu dapat menjadi penggerak pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja layak, serta pelestarian lingkungan. (fer/r6)
Editor : Kimda Farida