Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kredit di NTB pada Triwulan II 2025 Tumbuh Impresif

Geumerie Ayu • Kamis, 14 Agustus 2025 | 19:34 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost – Perbankan di NTB menunjukkan performa yang kuat pada triwulan II 2025.

Kredit mengalami pertumbuhan yang signifikan, kualitas kredit yang terjaga, dan perbaikan DPK.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB Berry Arifsyah Harahap mengatakan, tantangan berupa LDR (Loan to Deposit Ratio) tinggi.

Perlambatan DPK rumah tangga juga perlu diantisipasi secara cermat.

“Dukungan kebijakan fiskal dan sinergi lintas sektor akan menjadi kunci menjaga momentum pertumbuhan ini tetap berkelanjutan,” ujarnya.

Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan kredit di NTB pada triwulan II 2025 meningkat tajam.

Baik dari sisi lokasi proyek maupun lokasi bank. Kinerja ini turut disokong kualitas kredit yang masih terjaga. Selain itu, mulai pulihnya penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK).

Pertumbuhan kredit berdasarkan lokasi proyek tercatat 16,96 persen (yoy) dengan nominal mencapai Rp 108,83 triliun.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia  NTB Berry Arifsyah Harahap
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB Berry Arifsyah Harahap

Jumlah ini naik dari Rp 98,49 triliun pada akhir 2024. Sementara itu, berdasarkan lokasi bank, kredit tumbuh 13,89 persen (yoy) menjadi Rp 73,63 triliun.

“Jumlah ini meningkat dari Rp 68,91 triliun pada triwulan IV 2024,” sambungnya.

Pertumbuhan kredit ini didorong lonjakan signifikan pada kredit modal kerja.

Kredit ini tumbuh 28,81 persen (yoy), dan kredit investasi yang naik 10,72 persen (yoy).

Kedua jenis pembiayaan ini didominasi ektor pertambangan.

Hal itu mencerminkan tingginya geliat sektor tersebut dalam mendorong ekspansi ekonomi regional NTB.

Di sisi lain, kredit konsumsi tumbuh lebih lambat, yakni 7,74 persen (yoy).

Hal itu mengindikasikan adanya moderasi belanja rumah tangga atau konsumsi individu di tengah kondisi ekonomi yang masih dalam tahap pemulihan.

Meski pertumbuhan kredit tinggi, kualitasnya masih dalam batas aman.

Rasio kredit bermasalah (NPL) berdasarkan lokasi proyek tercatat 1,71 persen.

Jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan regulator.

Sementara itu, NPL berdasarkan lokasi bank tercatat 2,35 persen. Menunjukkan peningkatan yang perlu diwaspadai, namun masih dalam koridor pengelolaan risiko.

Pertumbuhan DPK pada triwulan II 2025 tercatat sebesar 3,16 persen (yoy) dengan total nominal mencapai Rp 48,33 triliun.

Kinerja ini membaik dibanding triwulan sebelumnya.

Hal didorong peningkatan DPK dari pemerintah daerah dan sektor swasta.

Namun, DPK rumah tangga (RT) menunjukkan perlambatan, tumbuh hanya 5,73 persen (yoy).

Salah satu catatan penting dalam laporan ini adalah tingginya rasio LDR.

Berdasarkan lokasi proyek, LDR mencapai 225,20 persen, dan berdasarkan lokasi bank sebesar 152,35 persen.

Angka ini menunjukkan tingginya penyaluran kredit dibandingkan dengan penghimpunan dana.

Namun jika tidak diimbangi, dapat menimbulkan tekanan likuiditas dalam jangka menengah.

Dari sisi distribusi, NTB menyumbang 33,14 persen pangsa penyaluran kredit di kawasan Bali-Nusra.

Mengungguli NTT 20,39 persen dan di bawah Bali 46,48 persen.

Namun, dalam hal penghimpunan DPK, NTB baru menyumbang 18,03 persen.

Sementara Bali mendominasi dengan 68,20 persen. (fer/r6)

Baca Juga: Lagu What If Milik J-Hope BTS Hiasi Trailer Serial Hollywood 'Butterfly'

Editor : Prihadi Zoldic
#tumbuh #DPK #Dana Pihak Ketiga #NTB #Kredit