Warganya juga memiliki keterampilan mengolah bambu menjadi beragam produk.
Dari anyaman rumah tangga hingga kerajinan artistik.
Namun hanya sebagian kecil yang memproduksi barang bernilai tambah.
Sebagian besar warga masih bergantung pada penjualan bambu mentah.
Nilai ekonominya jauh di bawah potensi maksimal yang bisa dicapai jika bambu diolah lebih lanjut.
Desa-desa yang memiliki basis kerajinan, seperti Desa Loyok menghadapi kendala utama pemasaran.
Agus Hartadi, salah satu perajin bambu mengatakan, bambu adalah jalan hidup.
Di halaman depan rumahnya, ia membuka sebuah galeri kecil.
Anyaman tas jinjing berwarna alami tergantung rapi di rak kayu, sementara jenis produk yang lain berjejer dan menumpuk memenuhi teras.
“Kalau soal desain, kita di sini bisa bikin sesuai permintaan. Yang susah itu menjualnya,” ujar Agus.
Ia membina sepuluh perajin tetap dan bekerja sama dengan sekitar 90 pengrajin tidak tetap.
Sebagian menerima pesanan dari artshop di luar desa.
Pengalaman Agus tidak hanya sebatas membuat produk.
Ia kerap menjadi instruktur pelatihan yang diselenggarakan dewan kerajinan nasional daerah (Dekranasda) dan dinas perindustrian, tingkat kabupaten maupun provinsi.
Di Loyok sendiri, ada delapan pengusaha yang membuka artshop kerajinan bambu.
“Dulu banyak sekali,” kenang Agus.
Sekitar setengah kilometer dari Loyok, Dusun Dasan Petung di Desa Kotaraja menyimpan cerita lain.
Di sini, suara ketukan palu bambu sudah jarang terdengar. Mantan Sekretaris Desa yang kini menjadi guru SMK, LM Efendi Oktora mengaku prihatin.
“Perajin di sini kebanyakan sudah tua. Sayang kalau tidak diberdayakan lagi, terutama untuk regenerasi,” katanya.
Sebelum 2023, Efendi cukup aktif memasarkan produk melalui Google Maps dan toko daring Lalu Bije Olshop.
Namun, kesibukan di sekolah membuat aktivitas promosinya menurun.
Ia berharap ada lembaga seperti Lombok Research Center (LRC) yang mau melakukan pembinaan.
“Kalau ada program pembinaan, kita akan buka lagi galeri di rumah ini," ujarnya.
Di luar aktivitas mengajar, Efendi membina kelompok seni dan budaya Pusaka Rinjani.
Fokus pada seni lukis, gendang belek, ukir, dan kerajinan bambu.
Tantangan terbesar adalah menjembatani antara keterampilan perajin dan pasar.
Staf LRC Khotibul Umam Zain mengatakan, generasi tua memiliki teknik anyaman presisi.
Tapi tidak selalu akrab dengan strategi pemasaran modern.
Sebaliknya, generasi muda melek digital, tapi belum tentu tertarik melanjutkan profesi sebagai pengrajin.
Di Loyok, sebagian anak muda lebih memilih bekerja di sektor pariwisata atau merantau ke luar daerah.
Di Kotaraja, regenerasi perajin nyaris tidak ada.
Tanpa pembaruan dan insentif yang menarik ke depannya, keterampilan ini bisa hilang.
LRC menilai perlu ada pendekatan terpadu berupa pelatihan desain kontemporer dan pemanfaatan platform daring.
Juga kolaborasi dengan desainer muda dan pembukaan akses pasar ekspor.
“Hampir semua bilang kalau pasarnya ada, perajin pasti bisa membuat apa saja,” kata Umam.
Umam menilai desa-desa wisata di Kecamatan Sikur seperti yang ditemukannya di Tetebatu, memiliki sumber daya bambu yang melimpah.
Masyarakat di Tetebatu cukup terampil mengolah bambu.
Namun, Umam juga mengakui belum ada sinergisitas yang jelas antara sektor pariwisata, pemerintah desa, dan masyarakat.
“Bambu dimanfaatkan hanya sebatas dijual bahan mentahnya saja,” ujarnya.
Dia berharap dukungan pemerintah desa dengan menghubungkan sektor wisata dan produk lokal bambu tersebut.
Dapat dilakukan melalui penguatan artshop di kawasan desa wisata seperti di Tetebatu, Jeruk Manis, dan Kembang Kuning.
"Menghidupkan kembali industri pengolahan bambu ini terutama di desa-desa yang lama vakum, itu berarti menjaga warisan keterampilan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa," jelas Koordinator Lapangan program pemberdayaan dan pembinaan UMKM bambu Hari Bahagia. (fer/r6)
Editor : Kimda Farida