Lewat tangan-tangan kreatif warga, tumbuhan liar ini disulap menjadi kerajinan tangan bernilai.
Mulai dari tas, topi, vas bunga, hingga tempat tisu.
Kerajinan ini memanfaatkan potensi eceng gondok yang melimpah di Bendungan Batujai.
Bahkan kualitas eceng gondok dari Batujai disebut sebagai salah satu yang terbaik.
“Awalnya ini inisiatif sendiri, karena melihat bahan baku tersedia gratis di sekitar. Kami belajar cara pembuatannya dari YouTube, dan Alhamdulillah tidak ada kendala berarti,” ungkap Masnun, salah satu perajin eceng gondok.
Seiring waktu, keterampilan ini mulai ditularkan ke warga lainnya.
Minat masyarakat masih fluktuatif karena keraguan terhadap hasil pemasaran.
Namun sejumlah pesanan dari luar daerah membuktikan potensi bisnis ini.
Produk-produk eceng gondok buatan warga Prapen telah menembus pasar hingga ke Sumbawa, Kalimantan, bahkan Jogjakarta.
Terbaru, permintaan 5.000 pasang sandal berbahan eceng gondok datang dari Jogjakarta.
“Paling banyak sekarang permintaan topi dan tas, terutama dari kawasan wisata di selatan seperti Kuta Mandalika. Dari Jogjakarta juga ada permintaan besar. Ini jadi motivasi kami untuk terus mengembangkan usaha ini,” beber Masnun.
Harga kerajinan eceng gondok bervariasi, tergantung tingkat kesulitan pembuatan.
Satu buah topi dibanderol sekitar Rp 100 ribu.
Sedangkan tas bisa mencapai Rp 200 ribu tergantung model dan detail pengerjaan.
Masnun juga melibatkan ibu rumah tangga di sekitar lokasi.
Mereka diberi pelatihan dan dilibatkan dalam proses produksi. Dukungan juga datang dari Balai Wilayah Sungai (BWS), terutama dalam penyediaan bahan baku.
“Kami minta agar dalam proses pembersihan eceng gondok, tetap disisakan sebagian untuk kami olah jadi kerajinan. Alhamdulillah pihak BWS merespons dengan baik,” tandasnya. (fer/r6)
Editor : Kimda Farida