LombokPost – Di tengah hamparan 150 hektare lahan eks transmigrasi di Desa Songgajah, Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu, dulunya jambu mete tumbuh tanpa dimaksimalkan.
Buahnya hanya berakhir sebagai pakan ternak, sungguh sebuah potensi yang terabaikan.
Namun, di balik kondisi itu, tersembunyi sebuah kisah inspiratif tentang transformasi ekonomi dan pemberdayaan perempuan.
UMKM itu bernama Songgajah Food. Kini, UMKM tersebut menjadi salah satu binaan dari Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTB.
Kisah ini berawal dari inisiatif sekelompok ibu rumah tangga yang hendak mengubah nasib.
Mereka mulai mengolah buah mete yang melimpah menjadi camilan gurih.
Perubahan signifikan ini tak lepas dari peran sentral seorang pengusaha perempuan bernama Tinar Meinarti.
Berkat kegigihan Tinar, buah mete yang semula tak bernilai ekonomi kini menjadi komoditas unggulan.
Tinar, yang baru-baru ini diundang BI NTB untuk memamerkan produknya di ajang Karya Kreatif Indonesia 2025, menceritakan perjalanannya.
"Dulu lahan seluas 150 hektare untuk tanaman jambu mete belum dimaksimalkan dengan baik," ujar Tinar saat ditemui di NTB Mall, Mataram.
Sejak tahun 2000, lahan tersebut mulai dikembangkan sebagai perkebunan jambu mete.
Pada awalnya buah mete hanya diolah menjadi sirup berkat bimbingan dari instansi eks transmigrasi.
Perjalanan menuju produk kacang mete olahan menghadapi tantangan, terutama dalam hal pemasaran.
Tahun 2014, ibu-ibu pekerja sepakat membentuk kelompok dan mendirikan sebuah home industry.
Perkembangan pesat terjadi ketika pada tahun 2021. Unit usaha ini secara resmi bertransformasi menjadi Perseroan Terbatas (PT).
Titik balik penting lainnya datang pada tahun 2019.
Ketika itu Bank Indonesia Perwakilan NTB mengukuhkan Desa Songgajah sebagai salah satu desa binaan mereka.
Dari 500 pelaku UMKM di NTB, Songgajah berhasil masuk dalam 20 besar binaan terbaik BI NTB.
Songgajah masih terus mendapat pendampingan hingga tahun 2025.
Dukungan ini membantu mereka tidak hanya dalam produksi, tetapi juga dalam promosi dan perluasan pasar.
Berlokasi di pinggir rute menuju Gunung Tambora, dengan jarak sekitar 40 kilometer dari ibu kota kabupaten, Desa Songgajah membuktikan jarak geografis bukanlah halangan berinovasi.
Editor : Prihadi Zoldic