LombokPost – Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) NTB mengikuti kegiatan business matching Wonderful Indonesia di Korea Selatan dan Tiongkok.
Dari kegiatan ini, potensi transaksinya diperkirakan mencapai Rp 21 miliar.
Di antaranya, Rp 12 miliar di Tiongkok dan Rp 9 miliar di Korea Selatan.
Dalam kegiatan tersebut, Astindo NTB mempromosikan keunggulan destinasi Lombok dan Sumbawa kepada pasar kelas menengah ke atas.
Ketua Astindo NTB Sahlan M Saleh mengatakan, kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Republik Indonesia.
Business matching di Korea Selatan, 8-9 September lalu sukses membuahkan hasil manis.
Dalam forum tersebut, Astindo NTB mencatat potensi transaksi penjualan paket wisata hingga Rp 9 miliar.
Wisata bahari, honeymoon, dan perjalanan insentif perusahaan menjadi paket yang paling diminati.
“Pasar Asia Timur seperti Korea dan Tiongkok sedang tumbuh pesat. Mereka mencari destinasi yang menawarkan paduan alam, budaya, dan fasilitas premium. Lombok dan Sumbawa punya semua itu,” tutur Sahlan.
Antusiasme serupa juga terlihat di Tiongkok.
Dalam business matching yang digelar pada 11 September, delegasi NTB disambut dengan baik.
Acara ini bahkan dihadiri langsung oleh Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf, Ni Made Martini, serta Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok.
Menurut Sahlan, ketertarikan para buyer di Beijing sangat luar biasa, terutama pada paket wisata yang menawarkan keindahan pantai dan akomodasi bintang lima.
Dari pertemuan awal tersebut, potensi transaksi di Tiongkok diperkirakan mencapai Rp 12 miliar untuk setahun ke depan.
Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB ini melihat prospek besar di pasar Tiongkok.
Jumlah wisatawan yang masif dan preferensi mereka terhadap liburan premium menjadikan Lombok sebagai daya tarik utama.
“Kami melihat peluang yang sangat menjanjikan. Karena itu, kami berkomitmen melanjutkan komunikasi dan promosi dengan agen perjalanan potensial di Beijing, agar paket wisata NTB semakin dikenal luas,” jelasnya.
Selain target transaksi, delegasi NTB juga fokus pada pembangunan hubungan jangka panjang dengan pelaku industri pariwisata internasional.
Sahlan berharap kolaborasi strategis dengan agen perjalanan, operator tur, dan manajemen hotel dapat memperluas jaringan distribusi produk wisata NTB.
Juga meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.
“Target kami bukan hanya transaksi, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang dengan mitra internasional. Dengan begitu, NTB bisa terus menjadi pilihan utama,” jelas Sahlan.
Ia optimis potensi transaksi sebesar Rp 21 miliar ini akan menjadi pijakan strategis untuk memperluas pasar di tahun-tahun mendatang.
Sekaligus juga memberikan dampak nyata bagi perekonomian daerah.
“Kami akan terus mengawal tindak lanjut dari hasil pertemuan ini, agar potensi transaksi benar-benar terealisasi dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian daerah” tandasnya.
Editor : Pujo Nugroho