Menanggapi keluhan perihal elpiji 3 kg tersebut, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus Ahad Rahedi memberikan penjelasan.
Permintaan elpiji 3 kg masih tinggi sejak peringatan Maulid Nabi.
“Itu karena tingginya kegiatan masyarakat,” ujarnya.
Untuk mengatasi lonjakan permintaan elpiji 3 kg ini, Pertamina telah mengambil langkah mitigasi.
Pertamina telah menambah pasokan dan menjamin ketersediaan stok elpiji 3 kg di pangkalan resmi.
“Kami mengimbau masyarakat membeli langsung di pangkalan resmi elpiji 3 kg bersubsidi. Lokasinya dapat ditemukan dengan mudah melalui laman https://subsiditepatlpg.mypertamina.id/infolpg3kg,” jelasnya.
Ahad menegaskan, alur distribusi elpiji bersubsidi memiliki rantai yang jelas.
Elpiji disalurkan dari SPBE ke agen. Kemudian mendistribusikannya ke Pangkalan Resmi Elpiji sebagai titik akhir penyaluran resmi dari Pertamina.
"Pengecer atau warung bukan merupakan rantai distribusi akhir Pertamina," sambungnya.
Sesuai aturan pemerintah, pangkalan hanya boleh menyalurkan 10 persen dari alokasi mereka ke pengecer.
Prioritas utamanya tetap langsung ke konsumen.
Berdasarkan data Pertamina Patra Niaga, jumlah stok elpiji 3 kg bersubsidi yang tersedia di pangkalan resmi per Senin (15/9) sebanyak 84.500 tabung.
Rinciannya, Kabupaten Bima 7.100 tabung, Kabupaten Dompu 5.400 tabung, Kabupaten Lombok Barat 9.700 tabung, Kabupaten Lombok Tengah 14.600 tabung.
Kabupaten Lombok Timur 20.600 tabung, Kabupaten Lombok Utara 6.000 tabung, Kabupaten Sumbawa 7.500 tabung. Kabupaten Sumbawa Barat 500 tabung, Kota Bima 4.800 tabung, dan Kota Mataram 8.300 tabung.
Ahad menekankan, sebagai solusi saat ini, masyarakat diimbau untuk membeli elpiji 3 kg langsung di pangkalan resmi.
Langkah ini tidak hanya menjamin ketersediaan, tetapi juga memastikan konsumen mendapatkan elpiji sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
Serta jaminan kualitas dan kuantitas yang sesuai.
Sebelumnya, Sejumlah warga Lombok Barat ramai-ramai mendatangi salah satu SPBE pada Selasa sore (16/9).
Aksi ini dipicu keluhan warga yang kesulitan mendapatkan elpiji 3 kg.
Kejadian ini sontak menjadi sorotan publik dan memicu respons dari pihak terkait.
Di Mataram, kelangkaan juga terjadi. Wahyu Prihadi, salah seorang warga Kecamatan Ampenan menceritakan kesulitannya mendapat gas melon tersebut.
“Baru dapat tadi pagi (kemarin), dari Senin sudah habis di rumah,” ujarnya.
Dia yang tinggal di Kelurahan Taman Sari menceritakan, pada hari Senin dan Selasa sempat berkeliling ke berbagai toko.
“Jawabannya semua sama, habis,” ceritanya.
Karena kondisi itu, dia sempat memasak air panas dengan kayu bakar.
“Sempat juga masak sayur pakai magiccom, sama beli lauk di warung nasi,” ceritanya.
Kemarin, dia akhirnya mendapatkan elpiji 3 kg di sebuah warung kecil dekat kawasan Penghulu Agung.
“Ada sisa satu, sebenarnya sengaja disimpan si penjual untuk stoknya dia. Tapi dia kasihan lihat saya, akhirnya dikeluarkan,” ujarnya.
Editor : Siti Aeny Maryam